Saturday, March 04, 2006

PENGANTAR

Artikel ini hanya cocok bagi manusia yang sudah dewasa, rasional, cerdas, dan bijaksana. Bila anda masih muda, emosional dan meledak-ledak, mohon jangan membaca artikel ini, sebab artikel2nya bisa mengacaukan pikiran anda yang sempit, picik, fanatik, dan munafik! Artikel2 dalam site ini membahas tentang agama, Tuhan, kebudayaan, politik, dan sex.

Siapa sih yang tidak risau melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia. Ada berbagai agama besar dengan umatnya yang besar (terutama Islam), namun kasih sayang, ketentraman, keadilan, kesejahteraan, kebenaran dan keadilan malah nyaris tidak ada. Atau justru sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan, ketidak adilan, kriminalitas, keterbelakangan, kemiskinan, ketidak jujuran, kemunafikan, korupsi, kolusi, dan berbagai pelanggaran HAM justru marak terjadi di Indonesia; dan barangkali mencapai index prestasi nomor wahid didunia. Demikian pula yang terjadi dengan di negara2 yang justru kental sekali agamanya, seperti negara2 berbasis Nasrani: Amerika Latin (Colombia, Argentina, Chilie, Bolivia, Brasil), Philipina; dan negara2 berbasis Islam: negara2 di Timur Tengah (Arab Saudi, Mesir, Suriah, Aljasair, Maroko), Sudan, Nigeria, Pakistan, Afganistan, dst. Lalu, apanya yang salah? Agamanya? Manusianya? Kebudayaannya?

Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi justru menjadi belenggu bagi umat beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana penguasa politik, militer, birokrat, ekonom maupun pemuka agama bahu-membahu mendungukan manusia agar dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka. Fakta sejarah semestinya telah menyadarkan kita bahwa agama dapat dan sering diperalat oleh para politisi, sehingga agama justru dapat menjadi sumber krisis etika, moral dan kebudayaan suatu bangsa (misal Indonesia)!

Manusia cerdas, religius dan rasional tidak akan pernah: membatasi Tuhan sebatas agamanya, membatasi sesamanya atas dasar agamanya; sebab Tuhan adalah milik semua orang, baik yang beragama maupun yang tidak beragama - sebagaimana matahari diciptakan untuk semua manusia. Tuhan juga bukan masa lampau, melainkan lebih mengarah ke masa depan.

Web blog kami ada 3 buah, yakni:

http://bangsacerdas21.blogspot.com/ (yang sedang anda baca)
http://BudayaCerdas21.blogspot.com, berisi tentang analisis sangat tajam tentang: agama, kemunafikan, sex, dan RUU Anti Pronografi.
http://PolitikCerdas21.blogspot.com, berisi tentang analisis sangat tajam dan kritis tentang kebodohan bangsa Indonesia dalam berpolitik.
Sementara itu rekan2 dari LSM/NGO lain akan menyumbangkan pemikiran mereka melalui suatu web blog tersendiri yaitu: http://agamarasional234.blogsource.com/ yang berisi tentang kritik dan analisis yang sangat tajam kepada pemeluk agama yang bertingkah laku sangat tidak rasional. Web blog ini khusus sumbangan dari para filsuf kelas berat dunia! Wajib dikunjungi!!!

Sebagai penutup, perlu pembaca ketahui bahwa artikel2 yang ada merupakan merupakan sumbangan pemikiran masyarakat cerdik-pandai-bijak dari mana saja, terutama dari kota gudeg, Yogyakarta. Kami yang jaga gawang di Yogya tergabung dalam “Paguyuban Penanggulangan Krisis Kebudayaan Nasional”. Kami juga menghimbau anda yang cerdas dan bijaksana agar mau menulis di internet untuk sumbang saran bagi kemajuan bangsa indonesia yang terus menerus mengalami krisis. Budaya tepo sliro/KKN telah menghambat kedalaman dan keluasan pemberitaan disurat kabar, hal ini tidak akan terjadi dengan internet (tak ada sensor, jadi tak perlu takut). Berita di tv, radio dan koran sekedar bagaikan gunung es yang mengapung, tak pernah mengupas secara: tuntas, investigatip, dan dalam analisisnya. Dominasi regim ORBA beserta bablasannya terhadap mass media (s/d saat ini) dan ketakutan akan kekerasan juga berpengaruh. Sebagai contoh: Sydney Jones diusir (karena keterbukaan dan kedalaman analisisnya), Munir dihabisin, Jeffry Winters pernah dikerjain di Yogya (dipukuli preman), dan Tempo dikerjain oleh Tommy Winata. Budaya jurnalism di Indonesia sangat menguntungkan bagi para pelaku kejahatan besar, mereka nyaris tak pernah terungkap (kasus Pertamina, kasus rekening para jendral polisi, dst.)! Beda dengan di negara maju: good news is bad news; jadi setiap peristiwa yang buruk pasti di investigasi sampai detail; sang pelaku bisa habis riwayat kariernya, atau bahkan bunuh diri saking malu (misal di Jepang: harakiri)! Internet, yang bebas dan sulit dikontrol, adalah senjata yang sangat ampuh bagi pencerdasan bangsa, dan sangat ditakuti oleh oknum pejabat bahkan pemerintah (yang ditaktor). Perlu diketahui, regim Soeharto/militer juga dijatuhkan oleh USA dengan salah satu cara melalui internet (Apakabar net asuhan John McDougall, dimana setelah Soeharto lengser web inipun lalu menghilang). Pembaca yang dewasa-bijak-cerdas dapat memberikan feed back dengan mengirim email kepada kami, atau kami sarankan untuk membuat web blog sendiri demi membantu mengatasi krisis kebudayaan yang tak kunjung berakhir.

Kami juga mohon agar artikel2 ini disebar luaskan kepada para: intelektual, aktivis kampus, pemuka agama, dan cendekiawan keagamaan di segenap penjuru Nusantara dan ke seantero dunia baik secara: digital (diforwardkan/disimpan di archive suatu situs internet), suara (dibacakan di radio) maupun secara kertas (dicetak/dibukukan), dengan harapan untuk menjadi sumber pembahasan/diskusi yang sehat dan sumber riset mengarah ke doktoral (PhD) demi memicu pengertian yang lebih mendalam tentang kebudayaan, agama, politik, sex dan Tuhan. Uluran tangan untuk menterjemahkan artikel ini kedalam bhs. Inggris yang baik/standar agar dapat di publish secara internasional melalui internet sangat kami tunggu2. Dengan peningkatan kecerdasan melalui internet, diharapkan kualitas SDM Indonesia dapat meningkat tajam, sehingga diharapkan negara Indonesia (dan dunia) menjadi lebih aman, tenteram dan sejahtera. Sekian dan terima kasih.

Dari pengasuh web blog,
Paguyuban Penanggulangan Krisis Kebudayaan Nasional
di Yogyakarta
Email: CerdaskanNegara@yahoo.com

ANALISIS MENDALAM TENTANG AGAMA, TUHAN DAN NEGARA [6th Edition]

Pengantar
Siapa tidak risau melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia. Ada berbagai agama besar dengan umatnya yang besar (terutama Islam), namun kasih sayang, ketentraman, kesejahteraan, kebenaran dan keadilan malah nyaris tidak ada. Atau justru sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan, ketidak adilan, kriminalitas, keterbelakangan, kemiskinan, ketidak jujuran, kemunafikan, korupsi, kolusi, dan berbagai pelanggaran HAM justru marak terjadi di Indonesia; dan barangkali mencapai index prestasi nomor wahid didunia. Demikian pula yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali agamanya, seperti negara2 berbasis Nasrani: Amerika Latin (Colombia, Argentina, Chilie, Bolivia, Brasil), Philipina; dan negara2 berbasis Islam: negara2 di Timur Tengah (Arab Saudi, Mesir, Suriah, Aljasair, Maroko), Sudan, Nigeria, Pakistan, Afganistan, dst. Lalu, apanya yang salah? Berikut ini adalah butir2 analisis yang mendalam tentang Agama, Tuhan, dan Bangsa yang diharapkan dapat menjadi salah satu sumber untuk mengatasi kerisauan diatas.

Dalil 1.
Tuhan itu tidak beragama, jadi Ia berlaku adil bagi semua manusia. Agama adalah sekedar sarana untuk mengenalkan Tuhan, namun Tuhan sendiri tidak beragama.
Dalil 2.
Pencapaian puncak pemahaman agama adalah religiositas. Salah satu definisi umum tentang religiositas adalah sbb.: sikap hatinurani, batin dan pikiran manusia yang selalu diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran dan keadilan. Religiositas setingkat lebih atas daripada beragama. Religiositas dapat diperoleh tanpa melalui agama, ia diperoleh terutama dari pengalaman hidup. Ibarat kuliah, ini adalah Philosophy Degree atau gelar Doktor. Setelah bergelar Doktor, maka ilmu lebih penting daripada almamaternya. Kalau baru taraf kuliah, seorang mahasiswa masih suka memamerkan identitas2 universitasnya; ia suka petentang-petenteng dengan jaket almamaternya. Kalau seorang sarjana yang sudah bekerja masih tersekat oleh kotak2 almaternya, dan setiap kekantor pakai jaket almamaternya, betapa kantor itu akan menjadi ajang sikut2an antar universitas, dan betapa menyedihkan jiwa orang itu (yang terbelenggu oleh almamaternya)! Demikian pula dengan agama, intisari agama yaitu Tuhan dengan sifat dasar Nya ("Maha Adil, Pengasih dan Penyayang") menjadi lebih penting daripada agama itu sendiri, atau bahkan agama menjadi tidak dominan lagi sekedar seperti almamater saja. Jadi, kalau sudah mumpuni keagamaan seseorang, bukan agamanya yang penting, melainkan religiositasnya yang amat sangat penting. Ia tidak lagi tersekat-sekat oleh kotak sempit yang disebut agama.
Dalil 3.
Keterbatasan kitab suci. Agama berbasis kitab suci. Dengan demikian, agama mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok seperti disebutkan dalam kitab-kitab suci Al-Quran dan Injil. Misal dalam Al-Quran ditandaskan bahwa apabila semua ajaran Allah SWT dituliskan, maka tinta sebanyak samudera rayapun tidak akan mencukupi. Demikian pula dengan Injil yang menandaskan apabila semua ajaran Isa Almasih dituliskan maka dunia beserta isinya pun tidak akan bisa memuat. Dikatakan bahwa Allah adalah Maha Besar atau Maha Tak TERBATAS; mana mungkin sesuatu yang Tak Terbatas (Allah, milyaran tahun) cukup dijelaskan oleh satu orang saja yang SANGAT TERBATAS (para nabi, yang umurnya mencpai k.l. 80 tahun)! Jika Allah itu dari minus tak terhingga (alpha, tak tahu kapan awalnya) dan berakhir di plus terhingga (omega, tak tahu kapan berakhirnya), maka seorang manusia yang hidup di suatu range (daerah) umur yang sangat terbatas (katakan 80 tahun) adalah tidak mungkin menjelaskan secara tuntas sesuatu yang tak terhingga (milyaran tahun)! Bumi dan universe sudah milyaran tahun, dan masih milyaran tahun lagi, maka seribu, sejuta atau bahkan semilyar nabi disertai ilmuwan tidak akan pernah selesai mempelajari universe dan Tuhan! Jadi, ke "Mahabesaran Tuhan" tidak mungkin cukup diwadahi dalam buku setebal/setipis kitab suci. Ke "Mahabesaran Tuhan" juga tercermin pada luas dan dalamnya ilmu pengetahuan.
Dalil 4.
Pemahaman akan Tuhan belum selesai dan tidak akan pernah selesai.
Banyak orang bijak berkata: “bukan agama yang dicari, melainkan kitab sucinya sebagai sumber agama yang dicari; dan bukan kitab suci yang sangat terbatas itu yang dicari melainkan kebenaran atau Tuhan yang selalu dicari”. Kitab suci (yang tipis sekali) beserta para nabinya adalah sangat terbatas seperti ditandaskan sendiri dalam ayat2nya seperti telah diuraikan diatas. Disamping itu, para nabi tsb. hidup dimasa lampau dan singkat (puluhan tahun), sedangkan Tuhan beserta kebenaranNya adalah tidak terbatas waktu dan tempat serta mengacu kemasa depan (s/d saat ini saja, bumi diduga sudah milyaran tahun umurnya!). Sebagai gambaran KEMAHABESARAN TUHAN: Seorang ahli komputer merumuskan suatu hukum yang disebut hukum Moore; ia menyatakan bahwa setiap delapan belas bulan akan terjadi lompatan teknologi dibidang teknologi informasi. Ia benar, ternyata komputer berkembang dari XT, AT, …., Pentium 4; demikian pula software: dari DOS, Windows 98, …, Windows XP. Manusia pun terus berkembang, dari jaman batu s/d jaman ini yang ditandai teknologi informasi dan rekayasa genetika. Ilmu Fisika tidak hanya berhenti pada hukum gravitasi Newton, melainkan terus berkembang misalnya teori relativitas Einstein, teori big bang, teori fusi, cloning, nano technology, dst. Buku ensiklopedi yang berjilid-jilid dan tebal sekali, setiap tahun harus di update mengingat hampir setiap hari ada penemuan baru di laboratorium riset di seantero dunia. Kalau ilmu pengetahuan, komputer berikut softwarenya, dan ensiklopedi beserta manusia penciptanya saja berkembang terus menerus dan secara cepat, apalagi Tuhan YME! Oleh sebab itu, Tuhan beserta kebenaranNya adalah dinamis, bukan statis, serta lebih banyak bergerak mengacu ke masa depan, dan tidak terlampau sering menoleh kebelakang; dengan demikian Tuhan adalah bukan milik atau dominasi sesuatu agama (yang seolah-olah hanya berbasis sesaat dimasa lampau), melainkan milik ruang dan waktu yang tidak terbatas dan tidak terhingga! Agama yang baik akan selalu ingin mencari tahu rahasia Tuhan yang belum terkuak; bukannya terus-menerus membelenggu, membatasi atau melecehkan Tuhan dengan mengatakan: Untuk mempelajari dan menghapalkan ke Maha Besaran Tuhan yang Tak Terbataskan, cukup melalui satu buku tipis saja yang disebut kitab suci; Tuhan itu cukup PC XT titik (statis) bukan Pentium 5 beserta penerusnya (Pentium X, dinamis, tak tahu s/d seri berapa nanti), Tuhan itu cukup DOS bukan Windows XP, Tuhan itu cukup jaman dulu dan tidak punya masa depan! Agama yang negatip hanya berkutat pada nabi2nya yang sudah dahulu kala, dan menganggap pemahaman terhadap Tuhan sudah dianggap selesai, kemudian nabi utamanya begitu dibesar-besarkan seringkali melebihi Tuhan itu sendiri; sehingga agama menjadi Maha Tak Terbatas (mengenal Tuhan cukup dengan belajar satu agama saja), sedangkan Tuhan menjadi Maha Terbatas (cukup dijelaskan oleh satu kitab suci setebal kurang lebih 1000 halaman); pusat ibadat dan puja-puji lalu diarahkan kepada nabi2nya. Umat beragama lalu malas membaca hal2 yang baru terutama science, sehingga menjadi terbelakang dalam berbagai segi kebudayaan. Agama ditilik dari sisi organisasi dapat berbeda tujuan dengan kitab suci sumber agama itu sendiri. Kitab suci sudah menandaskan dan menyadari keterbatasan dirinya (buku setipis itu), dan KETIDAK terbatasan Tuhan; sedangkan agama dilihat dari sisi organisasi, terus menerus mengatakan “Pelajaran tentang Tuhan sudah selesai, yaitu Kitab suci KITA, jadi jangan membaca kitab suci yang LAIN, apalagi pindah agama, tetaplah taat-setia kepada agamamu (=KAMI, para pengurus organisasi agama)”. Oleh agama yang statis-beku-kaku, kita bagaikan diminta untuk terus menerus menggunakan komputer XT dengan DOS, dan dilarang mempelajari atau menggunakan komputer Pentium 5 dengan WINDOWS XP atau LINUX, kita bagaikan diminta untuk terus menerus mempelajari hukum Newton, dan dilarang mempelajari fisika modern (temuan baru); kita bagaikan terusmenerus disuruh menoleh kebelakang dan tidak diperkenankan melihat kedepan! Jadi, agama yang kaku-beku-statis justru membatasi Tuhan dan membatasi sesama manusia (tersekat-sekat atas nama agama) serta justru dapat menjadi sumber krisis kebudayaan. Agama yang baik diharapkan menghasilkan manusia yang religius, sekaligus cerdas dan selalu ingin lebih tahu lebih banyak lagi tentang hal yang baru (termasuk agama baru). Manusia religius tidak akan terbelenggu oleh agama, maka ia tidak takut berdoa di rumah ibadah apapun (sesuai caranya sendiri), entah itu kelenteng, mesjid, gereja, pura, vihara, dst.; sebab ia paham bahwa Tuhan tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu dan pemahaman akan Tuhan adalah proses belajar yang tak akan pernah selesai. Ia juga akan selalu tertarik dan mengikuti perkembangan agama2 baru serta science yang baru.
Dalil 5.
Tuhan itu demokratis, sedangkan agama seringkali otoriter.
Tuhan tidak melarang manusia untuk tidak beragama, karena Tuhan sendiri pada dasarnya tidak beragama. Tuhan mengharapkan agar manusia mencapai pemahaman tertinggi yang disebut religiositas melalui berbagai sarana seperti agama, "agama lokal" (misal Kejawen), dan ilmu pengetahuan. Keotoriteran agama nampak pada keinginan mau menangnya sendiri seperti melarang
berbagai hal yang tidak sepaham dan ingin menjadi anak emas dinegara yang majemuk/pluralis! Dinegara maju, apa saja boleh dan justru dianjurkan untuk diperdebatkan (termasuk keyakinan), asal debatnya bermutu dimana kaki dan tangan (kelahi) tidak boleh ikut dipakai dalam adu gagasan! Tuhan itu Maha Cerdas, Maha Cerdas pasti suka debat, bukan main sweeping, larang-melarang, dan otoriter. Jadi seseorang yang cerdas pasti suka debat, karena debat mengakibatkan kemajuan. Memang, ada kemungkinan agama akan ambruk oleh adanya demokrasi, rasionalisasi, kebebasan berpendapat dan debat, seperti ambruknya gereja Katholik di Eropa pada sekitar abad 18 an. Monopoli dan otoritarian ajaran agama oleh pemuka agama menyebabkan posisi mereka tidak tergoyahkan dinegara berkembang. Tidak mengherankan bila di Timur Tengah yang penuh dikuasai kyai, ulama dan raja, takut setengah mati dengan demokrasi, rasionalisasi, dan kebebasan berpendapat. Pemuka agama seringkali memonopoli kebenaran dan takut berdebat untuk adu gagasan atau bersaing dengan kebenaran yang lain yang lebih modern; umatnya pun selalu di brain wash dengan mengatakan bahwa keyakinan tidak boleh diperdebatkan; atau untuk mengunci terjadinya perdebatan lalu berkilah: keyakinanmu adalah keyakinanmu, keyakinanku adalah keyakinanku! Bukankah ini semua demi kelanggengan kedudukan para pemuka agama itu sendiri dan agar umatnya tidak terpikat oleh pengetahuan baru tentang Tuhan? Bukankah umat yang besar jumlahnya juga identik dengan income (zakat/persembahan) yang besar pula bagi para pemuka agama? Mengapa Tuhan Yang Maha Cerdas dianggap bodoh, tak boleh didebat, dan Tuhan diangap takut akan demokrasi, rasionalisasi, serta kebebasan berpendapat? Pemuka agama takut debat, lalu mereka mengatas namakan Tuhan bahwa Tuhan tidak suka debat, keyakinan adalah harga mati - atau sesuatu yang beku, kaku dan statis, buku2 yang sangat kritis terhadap agama (dan penyalah gunaan agama) dilarang bahkan disweeping, aliran kepercayaan yang baru dan lebih modern dimatikan; dengan demikian kelompok ini menganggap Tuhan adalah sangat lemah, sehingga perlu dibela mati2an
Dalil 6.
Agama adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dicerna, oleh sebab itu sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak yang belum dewasa (disekolah dasar), apalagi dipaksakan sebagai pendidikan agama. Agama adalah persoalan individu dan merupakan kebebasan untuk memilih). Agama sebagai pengajaran (knowledge) adalah penting dan perlu diajarkan (misalnya keanekaragaman agama beserta ciri mereka masing2). Sebaiknya agama sebagai pendidikan (untuk menarik pengikut baru) diberikan kepada manusia dewasa, waktu belum dewasa cukup diberikan budi pekerti. Kalau sejak kecil sudah dicuci otak dengan agama, maka hasilnya mirip Indonesia saat ini. Bukan kekeluargaan atau kasih sayang melainkan kecurigaan, 'keterkotakan' (SARA), tidak pandai/biasa berdebat, kalau debat cepat marah, sulit menerima kekalahan, beku, kaku dan bahkan ini bisa menjadi cikal-bakal kekerasan nanti disaat dewasa. Dinegara modern seperi USA, Jepang, Korsel, Taiwan, Inggris, Australia, dst., agama memang tidak boleh diberikan pada anak2 SD/SMP/SMA (sekolah negeri) sebagai pendidikan (kecuali sekolah yang berafiliasi dengan agama tertentu), namun sebagai pengajaran (transfer of knowledge) yang mengajarkan berbagai agama beserta karakteristiknya diperbolehkan, pendidikan agama adalah merupakan tanggung jawab orang tua. Untuk anak, yang lebih baik dan lebih penting adalah budi pekerti (hubungan horisontal-antar sesama manusia, jadih lebih riel; agama: hubungan vertikal dengan Tuhan, lebih abstrak). Budi pekerti mengajarkan sopan-santun, taat hukum, menghargai alam dan isinya, keadilan dan hidup bersosial secara baik. Benarkah dan pernahkah Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa mengarahkan agama kepada anak2? Tidak kan? Oleh sebab itu, para pemuka agama hendaknya mengasihani para anak2 dengan tidak membebani otak mereka dengan pengetahuan yang belum saatnya (abstraksi yang sulit); dan yang lebih penting dan mendasar adalah: agama syarat dengan dogma2 yang beku-kaku, bila diajarkan secara kurang tepat dan bijak justru akan membelenggu kecerdasan anak2, bahkan justru anak2 akan mulai terkotak-kotak sejak dini, hal ini akan menimbulkan dan menyuburkan falsafah: right or wrong for my religion, yang pada akhirnya akan menghasilkan kelompok fundamentalis yang merupakan salah satu bahan awal dari terorisme! Selain itu, mereka menjadi kurang kritis, pasif, tidak pandai debat, dan kalau debat mudah marah (apalagi kalau kalah)! Adalah lebih bijaksana apabila manusia dewasa dibiarkan memilih agamanya sendiri , tanpa paksaan, setelah dewasa!
Dalil 7.
Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan, kedamaian dan keadilan; bahkan kadang2 agama justru dapat melunakan moral, etika dan hukum suatu negara melalui persepsi yang salah.
Lihat saja, ada berbagai agama besar di Indonesia, namun persaudaraan, perdamaian dan keadilan justru tidak ada; yang marak justru kekerasan, kerusuhan, KKN dan pelanggaran HAM. Para elit (militer, politik dan birokrat), yang notabene berpendidikan tinggi justru merupakan sebab utama kehancuran bangsa Indonesia. Yang diatas rajin korupsi namun bebas dan terhormat, yang dibawah: begitu menangkap pencuri ayam langsung dibakar begitu saja! Demikian pula yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali agamanya, seperti negara2 berbasis Nasrani: Amerika Latin (Colombia, Argentina, Chilie, Bolivia, Brasil), Philipina; dan negara2 berbasis Islam: negara2 di Timur Tengah (Arab Saudi, Mesir, Suriah, Aljasair, Maroko), Sudan, Nigeria, Pakistan, Afganistan, dst. TKW kita di Timur Tengah yang sering mengalami penyiksaan dan perkosaan juga dapat menjadi salah satu bukti nyata (frekwensi perkosaan tertinggi). Mengapa hal ini terjadi? Jawabnya, dalam hal ini, agama seolah-olah menekankan dan mengeksploitasi sifat Tuhan yang hanya sebatas Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun; sifat Maha AdilNya sengaja dihilangkan/dilupakan. Misalnya saja keyakinan bahwa apapun atau berapapun berat dosanya jika: -percaya Yesus dosanya akan diampuni dan masuk surga (agama Nasrani); atau – jika berpuasa secara benar atau meninggal di Mekah atau malam Laitul Kadar (malam seribu bulan dimana surga akan terbuka penuh) maka dosa satu tahun akan diampuni dan masuk surga. Dengan konsep mengobral harga “surga” semurah dan semudah itu, agama berupaya menarik minat calon pemeluk. Namun akibatnya justru negatip, tidak heran bila negara2 dengan agama yang kuat (tapi beku pemahaman) justru menjadi sumber KKN dan pelanggaran HAM! Agama justru dapat menjadi sumber krisis etika dan moral! Sebagai contoh kongkrit perilaku para agamawan dibumi nusantara, para koruptor kelas kakap, yang tinggal diperumahan-perumahan elit/eksklusip, adalah donatur penting bagi kegiatan sosial atau keagamaan; pemuka agama dan masyarakat disekitarnya tidak pernah mempertanyakan darimana para pejabat tinggi negara itu mempunyai dana lebih; atau justru sebaliknya, para koruptor ini dijadikan teladan kedermawanan lalu disanjung-sanjung! Demikian pula, melalui acara televisi, etika dan moral generasi muda terus-menerus dirusak setiap harinya: TV kita hanya memperlihatkan dan mementingkan wajah-wajah yang cantik, bagus, rupawan, seksi dan kayaraya, darimana asal kekayaan itu diperoleh tidak pernah digubris, tidak pernah ditayangkan adanya pejabat yang korup, polisi yang busuk, dan jaksa yang kolusi, melalui film2 di TV: Indonesia bak surga karena negara dipenuhi oleh manusia2 rupawan yang kayaraya, agamis, jadi negara seolah-olah bersih dari KKN dan pelanggaran HAM! Seharusnya sifat Maha Adil lebih ditekankan, agar manusia (pejabat) berpihak ke rakyat jelata yang tertindas, dan menuntut para oknum pelaku KKN dan pelanggar HAM dimuka hukum. Jadi sebelum hukum horisontal (antar sesama manusia) terlunaskan/termaafkan, maka oknum tsb. tidak akan mungkin masuk surga (hukum vertikal). Ulama, pastor, begawan, biksu dan pendeta harus menandaskan bahwa kejahatan manusia juga harus dipertanggung jawabkan dahulu didepan manusia (pengadilan), jadi tidak hanya vertikal melainkan horisontalpun penting (sifat Maha Adil itu lebih mengarah ke horisontal atau sesama manusia dan ini penting sekali)! Mereka harus rajin ke DPR/DPRD, Kejagung, presiden, dst., dalam hal membela kebenaran/moral, tanpa harus berpolitik praktis, mereka harus merasa malu dengan daya juang para mahasiswa/LSM dalam hal pembelaan moral dan kebenaran! Mereka, para agamawan, juga harus malu kepada seorang wanita ceking yang gigih membela manusia melarat dan tertindas, yang bernama Wardah Hafidz dan Dita Sari, atau pria ceking-kecil bernama Munir, yang tidak takut mengorbankan keamanan, kenyamanan bahkan hidupnya! Mana ada ulama, pastur, pendeta atau biksu, yang turun tangan membela tukang becak, penjual asongan, buruh, tki/tkw, dst., secara nyata? Mana ada dari mereka yang menuntut tuntasnya kasus BLBI, tragedi Mei 98, Trisakti, Priok, Kudatuli, KKN, uang hibah haram, pelurusan sejarah 1965, korban cucu-cicit PKI, membela buruh dan TKI/TKW, dst.? (seandainya ada, jumlahnya hanyalah minim sekali, kurang dari 1%, alias satu orang dari seratus pemuka agama!). Sebaliknya, pandanglah negara RRC yang komunis, yang justru menampilkan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan; koruptor kelas kakap diburu s/d liang kuburnya dan kalau ketangkap dengan tegas diadili kemudian ditembak mati. Kesejahteraan yang timbul dalam agama seringkali hanya terjadi pada para birokrat (pemimpin/pengurus) agama itu sendiri (karena zakat/derma). Penegakan hukum (legal formal) lebih menjamin tingginya moralitas dan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan bagi rakyat, bila dibandingkan dengan buaian agama yang memabokan.
Dalil 8.
Agama Harus Menghormati dan Mengembangkan Budaya Setempat.
Semua agama besar di Indonesia berasal dari luar negeri, maka bias budaya pasti ada. Artinya, budaya asing mendompleng agama akan masuk dan mempengaruhi budaya lokal. Alangkah sedihnya kita, apabila di jalan Malioboro, seorang menyapa dengan Amitaba ... (Budha, bhs. Cina), lalu dijawab yang lainnya dengan Assalam ..... (Islam, bhs. Arab), kemudian ada lagi yang menyahut Syallom .... (Kristen, bhs. Yahudi), tak ketinggalan ada yang berkata Hong wilaheng .... (Hindu, bhs. Hindi); kemudian ada yang menjawab secara rasional, sopan dan nasionalis: Selamat Siang. Demikian pula dengan budaya berpakaian, alangkah sedihnya apabila blangkon dan surjan Yogya terdesak oleh pakaian Arab atau sari India. Memeluk agama asing haruslah tidak boleh mengorbankan budaya setempat. Yang paling menakutkan adalah penjiplakan cara berpikir dan berperilaku, misalnya menganggap ilmu pengetahuan dan teknologi itu "setan" yang harus dijauhi, dan kekerasan demi pembelaan agama, konsep yang salah "right or wrong for my religion" (sisi "wrong" sangat berbahaya bagi kesehatan nurani). Agama yang baik semestinya dapat berperan untuk mempengaruhi kebudayaan suatu suku atau bangsa kearah yang lebih baik. Alm. Mochtar Lubis dalam bukunya yang best seller di tahun 1977 (judul: Manusia Indonesia) mengkritisi secara habis-habisan budaya negatip manusia Jawa (sang mayoritas) yang: munafik, enggan bertanggung jawab, feodal, percaya takhyul/mistis, berkarakter lemah, suka KKN, pelupa, tidak tahu malu, cuek, dst. Dalam konteks negara, agama yang baik semestinya bisa menghapus atau menipiskan kelemahan budaya suatu bangsa. Namun sayang, di Indonesia, peran agama justru kebalikannya, terbukti bangsa ini tidak bisa melepaskan diri dari sumber dari segala sumber krisis yaitu krisis moral dan kebudayaan! Bayangkan bila nalar kita tidak kritis diberbagai bidang, pinjaman uang (utang) luar negeri yang bersyarat telah membelit kita, kurs nilai mata uang yang jauh dari keadilan telah menjajah kita, konglomerasi perusahaan multi nasional dan budaya asing yang lewat agama telah mendominasi budaya kita, lalu kita mau jadi bangsa apa? Adalah sayang sekali, kebanyakan agama yang ada justru meninabobokan kemudian secara halus-terselamur menggusur kebudayaan kita!
Dalil 9.
Agama mudah diperalat.
Oleh para elit politik maupun penipu biasa, agama sering diperalat. Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi menjadi belenggu bagi umat beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana penguasa politik, militer, birokrat, ekonomi maupun agama bahu-membahu mendungukan manusia agar dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka.Kesetiaan dan ketaatan hampir seratus persen kepada Tuhan melalui agama disalah gunakan oleh 'manusia cerdas tapi jahat'. Antara Agama dan partai politik sudah sulit dibedakan. Antara filsafati yang suci bersih dan politik yang hitam kelam bercampur baur. Umat beragama bingung, apakah ia sedang mendengarkan sabda Tuhan atau orasi politik yang ulung dari seorang Dai (misalnya Dai sejuta umat), atau apakah ia sedang ada di mesjid atau sedang ada di kantor partai politik? Awas, jika para politisi di Jakarta ahli mempolitisir agama, apalagi para pakar politik Barat yang bagaimanapun kita harus akui kualitasnya lebih unggul daripada para politisi kita, mereka pasti juga ikut dan lebih pandai menggunakan jurus politisasi agama; misalnya saja agar Indonesia terjebak dalam persoalan agama atau agar bangsa Indonesia mendem/mabok agama (semuanya mau diselesaikan dengan agama!) dengan demikian laju perkembangan IPTEKnya dapat dihambat. Dengan politisasi agama, kasih sayang dimanipulasi menjadi kekerasan dan bahkan pembunuhan, misalnya jihad bom bunuh diri dimana pelakunya dijanjikan pahala yaitu surga. Lihatlah fakta kekerasan dan pembunuhan di negara2 yang agamis seperti: Colombia, Argentina, Aljasair, Afganistan, Mesir, Sudan, Pilipina, Indonesia, Bosnia, Yugoslavia, dst. Lihatlah bagaimana mantan presiden Suharto yang tidak lulus SMA dengan begitu indahnya mempercundangi para akademisi (mahasiswa dan dosen yang notabene adalah bergelar profesor/doktor) di UI, ITB, UGM, IPB, dst., dengan menaklukan/membelokan reformasi melalui politisasi agama (sebagai salah satu strategi save exit yang ampuh; tentang hal ini, harap baca artikel yang lain).
Dalil 10.
Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Lihatlah sejarah Eropa diabad 17 an. Agama Katholik saat itu sering menghukum ilmuwan, dengan alasan ilmuwan itu membuat pernyataan yang dianggap bertentangan dengan isi Injil. Ilmuwan besar yang dikucilkan antara lain adalah Copernicus, Galileo, Columbus, dan Darwin. Pada abad itu ketika agama Katholik begitu dominan (namun beku, kaku dan statis), Eropa justru mengalami jaman kegelapan. Sekarang, lihatlah perbedaan antara negara Amerika Latin (yang dominan agamanya) dan USA serta Kanada (yang dominan religiositasnya dan ilmuwannya). Sangat kontras sekali, misalnya saja antara USA dan Meksiko yang berbatasan. USA sangat modern, makmur, tentram, sebaliknya Meksiko, padahal mereka sama2 pendatang dari Eropa. Negara-negara Islam juga sama saja, katakan saja Turki, Bosnia, Albania adalah negara2 Islam paling modern, ternyata masih jauh tertinggal dibelakang negara2 Eropa dalam IPTEK, demokrasi dan kemakmuran. Selama pemahaman agama itu masih sempit (fanatisme agama, bukan religiositas), maka selama itu pula negara akan terjebak dalam hiruk pikuk eforia agama. Kita juga dibuat tercengang dengan para ilmuwan negara komunis, misal RRC, mereka maju pesat, misal sudah dapat mengirim astronot ke ruang angkasa, lihat pula negara kita yang dibanjiri otomotif produk mereka dengan harga yang sangat murah (sebab di RRC hampir tidak ada KKN). Berapa ribu jam belajar yang sudah dihabiskan oleh anak-anak SD untuk "menghapal" hal yang belum saatnya dipelajari (agama beserta bahasa asing dan budayanya)? Bukankah anak2 itu ibarat di "brain washing" sehingga daya kreativitas dan daya saing mereka untuk tingkat dunia menjadi rendah sekali. Karena cara mengajarnya yang kebanyakan doktriner, akibatnya para siswa menjadi kaku, pasip, tidak kreatip, tidak bisa debat, gampang marah kalau debat, dan tersekat-sekat. Hasilnya apa? Toh mirip P4, PMP, dst. Selain itu, setamat SD, kita masih harus menghabiskan sekian ribu jam pelajaran lagi untuk belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bahasa Inggris, lalu kapan SDM kita bisa maju kalau kita tidak effisien dalam menggunakan waktu dalam pendidikan (porsi agama terlampau banyak)?
Dalil 11.
Semakin rusak moral bangsa itu, agama semakin laku, dan hingarbingar kemunafikan beragama semakin luar biasa.
Kalau kita amati, seringkali tembok-tembok ditulisi: Ngebut, benjut; Yang Kencing disini hanyalah anjing; Daerah bebas narkotik; Dilarang buang sampah disini; dst... Dinegara maju yang masyarakatnya sudah mencapai religiositas, tulisan2 berisi ancaman dan aturan kasar semacam itu sudah tidak ada lagi, sebab aturan itu sudah tertulis dihati sanubari mereka semenjak dini/kecil, yaitu melalui pendidikan budi pekerti. Begitu pula dengan masalah agama, semakin bumi nusantara ini dipenuhi polusi suara yang keras dan hingar bingar tentang agama (Tabliq Aqbar, istigotsah, azan masjid, koor gereja, dsb.), kemudian orang2nya semakin gemar memakai atau memajang aksesori keagamaan (seringkali hanya untuk “sekedar sembunyi”), semakin menandakan bahwa masyarakatnya masih sekedar pandai berdoa dan sekedar bosa-basi agama (formalitas), namun tidak pandai melaksanakan ajaran agama. Siang maling atau korupsi, malam berdoa atau meditasi; para pegawai negeri yang mengaku abdi negara dan abdi masyarakat justru mempraktekan filosufi:”Mengapa harus dipermudah, kalau semuanya bisa dipersulit (agar keluar uangnya)?”. Agama sangat menjejukan dan memberikan rasa tentram dan kedamaian yang luar biasa terutama kepada para pelaku kelas berat: pelanggar HAM dan pelaku KKN. Agama memberikan citra bahwa Tuhan itu Maha Pengampun bagi para pelanggar HAM dan pelaku KKN (Maha Adil sengaja dilupakan!). Tidak heran agama menjadi tempat persembunyian yang ternikmat dan teraman bagi para pelanggar aturan ini, tidak heran agama menjadi laku keras sekali dinegara yang amburadul moralitasnya! Dan sayangnya, keamburadulan negara itu tetap tidak akan tertolong oleh maraknya agama. Coba amati, ucapan dan tindakan bangsa ini ternyata sangat kontras bedanya, alias hipokrit/munafik; nampak jelas bahwa semakin udara suatu bangsa penuh polusi doa puja-puji kepada Tuhan, semakin rusak moral bangsa itu. Lihatlah kelihaian para politisi tua Orde Baru dalam ber "agama", kemudian lihatlah "track record" mereka. Alhamdulilah, seratus delapan puluh derajat bedanya! Dengan demikian, dapat kita katakan, apa yang terjadi di Indonesia adalah pelecehan agama, bukan penghormatan agama, apalagi pengamalan agama! Pelecehan agama sama saja dengan pelecehan Tuhan, ini akan menyebabkan kehancuran moral suatu bangsa dan murka Tuhan!
Dalil 12.
Agama tidak akan berguna apabila rakyatnya lapar, miskin dan bodoh.
Ada pedoman hidup yang klasik dan bagus: “Kenyang dulu baru ber falsafah”. Sebaik-baiknya ajaran agama, namun apabila perut umatnya kosong, yang terjadi adalah justru kriminalitas: kerusuhan dan kekerasan. Oleh sebab itu, agama perlu meniadakan sumber-segala sumber kemiskinan dulu, terutama kemiskinan struktural yang disengaja dan sengaja dibiarkan terjadi berkelanjutan oleh para politisi busuk; misalnya: gaji yang tidak layak dan tidak adil. Dirut BUMN terima 50 juta; sedangkan buruh/pns terendah terima 0,5 juta per bulan; rasio 1:100! Sistim penggajian yang berbeda antar departemen dan antar BUMN! Sistem gaji di Indonesia, yang bagaikan hutan belantara, telah menjadikan gap kekayaan yang luar biasa dan menjadikan sumber KKN. Kebodohan akan mengakibatkan kesempitan berfikir, kesempitan berfikir dapat disalah gunakan oleh pemuka agama yang berjiwa preman, hasil utama didikannya adalah kefanatikan, kefanatikan (mengklaim paling suci dan paling berhak atas surga!) akan mengakibatkan radikalism agama yang pada akhirnya akan menghasilkan terorisme! Kemiskinan dan kebodohan menyebabkan mudahnya umat untuk di cuci otak oleh pemuka agama preman, misalnya untuk melaksanakan: jihad (di agama Islam dapat berbentuk bom bunuh diri, sekaligus melakukan pembunuhan masal; sedangkan bunuh diri secara masal bentuk di agama Nasrani); semuanya dilakukan demi dalih masuk surga!

Penutup
Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi menjadi belenggu bagi umat beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana penguasa politik, militer, birokrat, ekonom maupun pemuka agama bahu-membahu mendungukan manusia agar dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka.

Singkat kata: “kitab suci semua agama sangat terbatas, Tuhan maha tidak terbatas. Pemahaman akan Tuhan belum selesai dan tidak pernah akan selesai. Oleh sebab itu, janganlah kita menghina tuhan dengan mereduksi/memperkecil kemahabesaran Nya menjadi hanya satu buku yang sangat tipis sekali yang disebut kitab suci. Belajar agama harus sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu religiositas! Manusia yang sudah mencapai derajat religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi mementingkan wadahnya yaitu agama, melainkan lebih mementingkan isi (intisari/makna) suatu ajaran agama, dan ia tidak pernah berhenti untuk terus mencari Sang Kebenaran! Dan ia menjadi manusia bebas merdeka yang tidak tersekat-sekat lagi. Berbahagialah orang yang tidak beragama namun mempunyai religiositas yang tinggi/dalam, sebab ia akan bebas merdeka dimana saja, kapan saja, dilingkungan apa saja, sebab Tuhan akan selalu menyertai dia! Manusia religius tidak akan pernah: membatasi Tuhan sebatas agamanya, membatasi sesamanya atas dasar agamanya; sebab Tuhan adalah milik semua orang, baik yang beragama maupun yang tidak beragama - sebagaimana matahari diciptakan untuk semua manusia. Tuhan juga bukan masa lampau, melainkan lebih mengarah ke masa depan. Fakta sejarah juga telah menandaskan bahwa agama dapat diperalat menjadi sumber krisis etika, moral dan kebudayaan apabila dipolitisasi!

Sayang sekali, kebebasan beragama di Indonesia termasuk semu, sebab agama2 baru, yang ternyata banyak sekali jumlahnya, dilarang masuk ke Indonesia (juga kebebasan untuk tidak beragama atau berkepercayaan)! Mungkin hal ini dikarenakan takut mengganggu kemapanan agama2 yang sudah dahuluan masuk Indonesia. Silahkan search (cari tahu) agama baru di internet dengan Google dengan cukup mengetikan: new religion. Selain itu, lihatlah format KTP kita, KTP hanya memuat agama tertentu; padahal agama terus tumbuh dan berkembang, dan religiositas adalah pencapaian terbaik untuk umat manusia; dengan pilihan politis demikian, sudah dapat ditebak bahwa visi kedepan bangsa ini telah salah secara mendasar! Membatasi pengetahuan akan Tuhan hanya sebatas kitab suci yang tipis dan lama (kuno), dan membatasi/menghalangi manusia untuk mengetahui rahasia Tuhan lebih lanjut dan lebih jauh lagi adalah dosa yang tidak disadari oleh para pemimpin agama saat ini yang pemikirannya statis-kaku-beku!!!

Sebagai penutup, kami juga mohon agar artikel2 ini disebar luaskan kepada para: intelektual, aktivis kampus, pemuka agama, dan cendekiawan keagamaan di segenap penjuru Nusantara dan ke seantero dunia baik secara: digital (diforwardkan/disimpan di archive suatu situs internet), suara (dibacakan di radio) maupun secara kertas (dicetak/dibukukan), dengan harapan untuk menjadi sumber pembahasan/diskusi yang sehat dan sumber riset mengarah ke doktoral (PhD) demi memicu pengertian yang lebih mendalam tentang kebudayaan, agama, politik, sex dan Tuhan. Uluran tangan untuk menterjemahkan artikel ini kedalam bhs. Inggris yang baik/standar agar dapat di publish secara internasional melalui internet sangat kami tunggu2. Dengan peningkatan kecerdasan melalui internet, diharapkan kualitas SDM Indonesia dapat meningkat tajam, sehingga diharapkan negara Indonesia (dan dunia) menjadi lebih aman, tenteram dan sejahtera. Sekian dan terima kasih.

Dari pengasuh web blog,
Paguyuban Penanggulangan Krisis Kebudayaan Nasional
di Yogyakarta
Email: CerdaskanNegara@yahoo.com

BEGITU INDAHNYA STRATEGI BEGAWAN POLITIK SOEHARTO DALAM MENAKLUKAN BANGSANYA!

PENGANTAR

Keterlibatan AS dalam kupdeta militer yang merangkap di tahun 1965 di Indonesia sudah banyak ditulis. Bung Karno (BK) yang mempunyai visi jauh kedepan sudah menetapkan bahwa Indonesia adalah non blok, mandiri (berdikari), dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri (“Go to hell with your aids!”). Sayang sekali, Soeharto dkk. melakukan konspirasi dengan USA (via CIA) menusuk bangsanya sendiri. Negara-negara sahabat Bung Karno, sperti RRC dan India, yang mempunyai prinsip serupa dengan BK dan tidak mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto Cs., saat ini menjadi bangsa yang sehat, normal, bahkan adidaya! Presiden SBY baru-baru ini terpaksa mengulangi langkah BK lagi dengan mengunjungi RRC. Jadi, ditahun 1965, Indonesia dijadikan lapangan pertempuran antara USA dkk vs. Rusia dkk., yang menang USA (kapitalis); sebaliknya di Vietnam, yang menang Rusia (komunis).

Pada tahun 1995 an, Soeharto menyadari kesalahannya, disamping sudah terdesak oleh kaum reformis, ia pun ingin banting stir ingin lepas dari USA. Cara teraman adalah menggunakan politisasi agama. Dibawah ini akan dijelaskan bagaimana begawan politik Soeharto dengan seni yang indah dan tinggi sekali memperdaya bangsanya melalui politisasi agama Islam. Dengan strategi safe exit ini bangsa Indonesia bagaikan dimasukan kepihak Timur Tengah dalam menghadapi dunia barat! Dengan demikian, Indonesia seolah-olah ingin dilepaskan dari mulut harimau (USA dkk.), namun dimasukan mulut buaya (Arab/Timur Tengah). Regim Soeharto memang selamat-sehat walafiat; namun dengan hasil sampingan: Indonesia masuk sekaligus dua mulut: harimau dan buaya! Indonesia saat ini (2005) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. SELAMAT MEMBACA...

***
Bila anda seorang intelektual Muslim yang dewasa dan rasional, maka setelah membaca fakta2 sejarah dibawah ini, lalu merenungkannya secara mendalam, barangkali anda tidak akan emosi dan marah, bahkan justru akan menitikan air mata kepedihan dan mengucapkan terima kasih kepada penulisnya atas fakta, kritik dan saran yang terkandung didalamnya. Kegeniusan regim Soeharto dalam memanipulasi agama harus dibeberkan dengan jelas-tuntas. Sama sekali tidak ada maksud negatip dari hati penulis, kecuali keinginan mengungkapkan keprihatinan hati nurani penulis. Kecintaan penulis yang tulus dan dalam kepada Tuhan YME serta negara RI menjadi sumber utama inspirasi untuk menulis artikel ini. Berikut ini fakta2 sejarah nyata tersebut:

- Jendral Soeharto beserta para jendral TNI AD telah memprovokasi/mendalangi massa NU (umat Islam, terutama di Jatim) untuk membantai ratusan ribu massa PKI yang tak berdosa dan tidak tahu menahu tentang politik di desa2, ditahun 1965, hal ini dilakukan untuk menutupi coup detat angkatan darat sekaligus untuk mengkambinghitamkan PKI. Pembunuhan yang lebih kejam lagi adalah “pembunuhan kemanusiaan” terhadap anak cucu para anggota PKI yang tidak tahu menahu dan tidak terlibat politik dengan cara merintangi perkembangan kepribadian, emosi dan bisnis mereka (alat2 pembunuh yang diciptakan misalnya: litsus dan S.K bebas G30S). Operator pembunuhan nasional ini adalah pasukan KOPASUS/RPKAD dibawah pimpinan Sarwo Edhi (mertua presiden SBY). Peristiwa G30S 1965 lebih tepat bila didefinisikan sebagai pengkianatan regim Soeharto terhadap bangsanya sendiri, bukan pengkianatan PKI. Baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang meminta maaf. Disini agama dipakai untuk memprovokasi masa dan membantai bangsanya sendiri!
- Dijaman Soeharto (Orba): agama diperalat untuk menggaet suara pemilih disaat Pemilu, misalnya saja penyalahgunaan dai Zainudin MZ yang sengaja sering ditampilkan di TV, kemudian sengaja digelari "Dai Sejuta Umat" agar rakyat mudah terpikat. Setelah populer, dai ini dibawa safari Ramadhan oleh menteri Harmoko untuk menipu rakyat demi kemenangan GOLKAR. Memenangkan suara pemilu suatu daerah diuamakan melalui para ulamannya. Semenjak regim ORBA s/d saat ini para kyai dan ulama terus diperebutkan oleh politikus untuk menjadi sekedar alat politik. Oleh regim Suharto, para ulama busuk ini dibuatkan wadah yang dinamai MUI. Oleh orang bijak, kata MUI lebih tepat kalau diterjemahkan sebagai Majelis Ulama Istana (atau alat penguasa). Saat ini adalah sulit untuk membedakan antara ceramah agama dan ceramah politik seorang ulama. Baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang berani memarahi para ulama di MUI dan saat itu disiarkan secara langsung di TVRI! Gus Dur menandaskan bahwa para ulama ini adalah para pengejar harta dan kekuasaan. Sampai dengan saat ini MUI diberikan income yang sangat besar sekali yaitu melalui labelisasi halal/haram semua makanan (semestinya Badan POM). Sebagai pembanding, Probo Sutejo, paman Soeharto, berawal dari guru SMA, diberikan kekuasaan labelisasi cengkeh, maka jadilah ia trilyuner; Probo mampu menyuap Rp. 16 milyar ke pada hakim agung di MA! Disini agama kembali dipakai untuk menipu rakyatnya.
- Ketika regim militer sudah terdesak oleh kaum intelektual kampus, maka Habibie bersama para Jendral (Hartono, Ahmad Tirtosudiro, mbak Tutut, dsb.) mendirikan ICMI di Universitas Brawijaya Malang guna menarik simpati dan mengelabui kaum intelektual. Masuk ICMI adalah kunci jabatan birokrasi yang tinggi (saat itu). Tak heran, saat itu, banyak Profesor dan Doktor terpikat masuk ICMI terbius tuk menduduki jabatan birokratis yang tinggi. Hal ini paling tidak menandakan adanya: kebutaan politik dan tingginya napsu manusiawi (harta dan kedudukan) para ilmuwan Muslim. Disini agama dipakai untuk membius dan mengelabui cendekiawannya sendiri demi save exit regim ORBA.
- Seiring dengan ICMI, Suharto juga mengganti para menterinya yang semula berwajah Nasionalis menjadi bernuansa Arab-Islami demi mengambil hati umat Islam guna menyelamatkan regim militer dan ORBA. Para menteri keturunan Arab tsb. adalah: Marie Muhamad, Ali Alatas, Saleh Affif, Fuad Hasan, Bedu Amang, Fuad Bawazir, dsb. Kemudian mbak Tutut Suharto yang cantik dan seksi ke Mekah naik haji, dan sepulangnya dari Arab, beliau memakai jilbab. Bob Hasan pun berganti nama menjadi Muhamad Hassan. Sebelumnya Suharto telah mengobral uang rakyat sebanyak 700 trilyun rupiah ke etnis Tionghoa yang nakal lewat BLBI (banyak Chinese yang baik, namun Suharto yang jahat lebih suka memilih konglomerat hitam). Dengan demikian, regim ORBA ingin berganti baju, yang dulu: militeristik, pro nasionalis (dengan think-thank CSIS), dekat dengan Tionghoa, dekat dengan USA/IMF, dan terkesan menindas Islam, menjadi pro Islam atau bahkan ingin mengesankan diri sebagai pembela Islam, menjauhi Tionghoa dan Barat. Regim ORBA saat itu memang sudah diambang kejatuhan, maka strategi terjitu adalah politisasi agama. Disini agama dipakai untuk: meninggikan etnik keturunan (Arab), menipu para cendekiawan Muslim, meremehkan suku dan budaya asli bangsa sendiri (Jawa), memprovokasi anti Barat, dan menipu rakyatnya sendiri!
- Seminggu sebelum tragedi Mei 1998 (yaitu pembantaian/perkosaan umat Tionghoa di Jakarta dan Solo, yang didalangi Wiranto dan Prabowo dengan operator RPKAD dan Pemuda Pancasila) para provokator telah diinstruksikan untuk menulisi rumah2 penduduk dengan kata2 bernuansa SARA yaitu:"Milik Pribumi Muslim". Dengan demikian, para oknum jendral AD tsb. berusaha mengadu domba Islam dengan etnis Tionghoa. Nampak bahwa regim Suharto/militer ingin mengalihkan tanggung jawab salah urus negara kepada etnis Tionghoa dan ingin membuat citra bahwa umat Muslim marah kepada Tionghoa. Padahal hampir semua bisnis militer, politisi dan pejabat tinggi kebanyakan dijalankan oleh konglomerat hitam Tionghoa (sekali lagi, di Indonesia tercinta ini jauh lebih banyak Tionghoa yang baik daripada yang “hitam”). Manusia Jawa lalu merasa: dianaktirikan (dibunuhi dijaman 1965) dan Tionghoa dianak emaskan (diberi BLBI 700 trilyun); sebaliknya manusia Tionghoa merasa: dianaktirikan (dibunuh dan diperkosa saat tragedi Mei 98, penindasan budaya, serta adanya persyaratan SKBRI) dan pribumi dianak emaskan (misalnya: diberi kesempatan lebih besar menjadi PNS); kemudian menjelang reformasi, keturunan Arab dianak emaskan. Dimulai semenjak regim Suharto, hubungan pribumi dan Tionghoa menjadi tidak harmonis bahkan cenderung saling curiga; demikian pula antara Jawa dan non luar Jawa (adanya sentralisasi mengakibatkan luar Jawa jauh tertinggal). Disini agama dipakai untuk adu domba, divide et’ impera (pemecah belah), kerusuhan, perkosaan bahkan pembantaian etnis.
- Ketika Akbar Tanjung diadili masalah penyelewengan dana Bulog, ia berdalih bahwa uang itu telah disalurkan ke yayasan Islam yang disebut Rudhatul Janah guna mengentaskan kemiskinan; padahal uang itu dipakai untuk mendirikan berbagai partai politik agar PDIP saat itu tidak menang mutlak. (Bila saat itu tetap hanya ada tiga partai, PDIP menang mutlak, pastilah regim ORBA sudah musnah!) Agama kok begitu mudahnya diselewengkan/diperalat untuk menyelamatkan regim Orde Baru (= pembangkrut bangsa).
- Ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat fakta sejarah mengatakan bahwa semua presiden yang direformasi pasti lari terbirit-birit ke Luar Negeri untuk menyelamatkan diri (agar tidak terbunuh), misalnya Marcos, Shah Iran, Mobutu Seseseko, Jean Betrand Aristi, dst. Sayang, bangsa ini baru terlelap tidur sehingga otaknya tidak mampu menganalisanya. Para kaum supercerdas politik (pengamat politik luar negeri, akademisi kampus) mengatakan bahwa disamping Suharto mendapat jaminan keamanan dari kelompoknya (TNI AD lewat Jendral Wiranto dan Prabowo), Suharto juga mendapat jaminan keamanan dari salah seorang tokoh reformasi yang berhasil diselundupkannya… hebat bukan? Dalam politik, cara terbaik melumpuhkan lawan adalah strategi penyusupan (ingat dimasa ORBA: berapa kali PDI disusupi dan dipecah belah dari dalam). Siapakah diantara ketiga tokoh reformasi (Mega, Gus Dur, dan Amien Rais) yang merupakan tokoh selundupan itu? Ia adalah Doktor Amien Rais, warga keturunan Arab asal Solo, sahabat lama Prabowo jauh hari sebelum reformasi (Prabowo = menantu Suharto); jadi regim Suharto sudah lama mempersiapankan strategi penyusupan Reformasi. Amien Rais, kader brilian ICMI, kemudian pura-pura bentrok dengan ICMI, keluar dari ICMI dan menyelundup sebagai tokoh reformasi. Ketika kaum intelektual kampus dan para mahasiswa ingin menurunkan Habibie (Hbb), Amin selalu melindungi Regim ORBA dengan himbauannya agar Hbb diberi kesempatan tuk memimpin reformasi dan Amin sanggup menjadi sparing partnernya apabila Hbb menyeleweng. Ketika PDIP menang pemilu (tidak bisa menang mutlak, karena partai peserta Pemilu disengaja banyak sekali), regim ORBA masih merasa takut sekali apabila Megawati menjadi presiden (siapa tahu Mgw akan balas dendam thd regim Suharto); maka perlu kelicikan untuk menjegal Mega, Amien menjadi dalangnya dengan membentuk poros tengah yang bernuansa Islami dan dengan jargon "Wanita belum bisa diterima oleh ulama Islam sebagai presiden”. Maka Gus Dur yang dianggap kurang berbahaya terhadap regim ORBA dinaikan menjadi presiden (walau dari persyaratan kesehatan jasmani jelas2 tidak mungkin ia menjadi presiden sebab buta; namun saat itu hanya Gus Dur yang dapat menandingi kepopuleran Megawati). Ketika dalam perjalanannya sebagai presiden, Gus Dur ternyata dianggap membahayakan regim Orba, maka Amin Rais kembali beraksi lagi melalui MPR/DPR dan berhasil menjatuhkan Gus Dur. Gebrakan gus Dur yang membahayakan regim Orba misalnya adalah: membubarkan Deppen dan menetralkan LKBN serta TVRI (senjata informasi paling canggih regim Orba, pembius dan pembodoh rakyat), pemulihan hak kebudayaan etnis Tionghoa, serta diangkatnya Baharudin Lopa menjadi Jaksa Agung, yang kemudian ditengah masa jabatannya, ia dihabisi oleh Regim ORBA (regim Orba yang pakar dalam bunuh membunuh dan adu domba juga menghabisi Munir-Kontras serta jendral bersih dan cerdas Agus Wirahadikusumah). Ditahun 2004, Gus Dur ngotot ingin jadi calon presiden lagi; namun karena tidak dibutuhkan lagi oleh regim ORBA, maka cacat matanya dipermasalahkan, kali ini tidak ada lagi yang membelanya! Megawati yang sudah bisa dijinakan dan mulai dekat dengan militer akhirnya direstui tuk jadi presiden. Kemudian, dalam salah satu pidatonya, Amin Rais menandaskan untuk tidak mengungkit-ungkit lagi Soeharto dengan alasan usia dan sakit; padahal Soeharto dkk. itu kunci keadilan, kunci KKN, kunci masalah dan pelurusan sejarah, kunci uang yang ada di bank2 L.N; Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler bagi jerman); jadi sebaiknya Soeharto diadili dulu, mengakui bersalah, barulah diampuni. Dalam gerakan zig-zag si reforman palsu ini (Amin Rais), ia banyak mendapat dukungan dan restu dari HMI, KAHMI, Muhammadiyah, dan MUI. Sampai dengan saat ini Amien Rais beserta HMI, Muhammadiyah, dan MUI tidak pernah lagi mengusik Suharto, akhirnya Suharto dan regimnya ternyata selamat. Saat ini, masyarakat luas telah menerima bahwa telah terjadi reformasi, padahal belum! Regim ORBA adalah ibarat rangkaian seratus gerbong kereta api Argo Bromo, kemudian melalui reformasi semu, yang turun baru satu masinis saja, yaitu Soeharto, sedangkan lainnya masih mendominasi tatanan bisnis, birokrasi dan perpolitikan di Indonesia (terutama oknum petinggi militer/polri). Persamaan mathematik reformasi di Indonesia sungguh kayal dan irasional, persamaan itu adalah: Orde Reformasi = Orde Baru cukup dikurangi satu Soeharto saja!!! Dengan demikian, kita bangsa Indonesia patut menjadi sangat heran: Agama kok dipakai untuk mencegah emansipasi wanita (menjegal Megawati) dan membodohi bangsanya sendiri demi keselamatan regim ORBA yang sudah membangkrutkan bangsa dan membelokan reformasi! Para oknum Jendral AD sungguh hebat, ditangan mereka: Islam ternyata hanya menjadi sekedar alat mainan belaka!
- Ditahun 1965, Soeharto dkk. melakukan konspirasi dengan USA (via CIA+mafia Berkeley/UI) menusuk bangsanya sendiri (Bung Karno). Saat itu, Indonesia dijadikan lapangan pertempuran antara USA dkk vs. Rusia dkk., yang menang USA (kapitalis); sebaliknya di Vietnam, yang menang Rusia (komunis). Regim militer dibawah Soeharto bersama USA dkk. sebagai pemenang, boleh dikata telah menikmati sepertiga kekayaan negara ini sejak 1965! Dari gas alam di Aceh s/d Free Port di Irian; dari Sabang hingga Merauke. Suku Dayak, Irian, Pakan Baru, Aceh, dst., sebagai pemilik kekayaan, hanya gigit jari! Selain itu, USA dkk. telah membuat bangsa ini terjebak pada hutang yang maha luarbiasa besarnya! Ketika regim ORBA/militer sudah diambang kejatuhan, maka strategi terjitu adalah politisasi agama (dalam hal ini agama Islam). Suharto mulai sadar bahwa negara RI telah ia gadaikan ke USA dkk., dan telah diperas habis2an oleh mereka. Dengan strategi save exit ini bangsa Indonesia bagaikan dimasukan kepihak Timur Tengah dalam menghadapi dunia barat! Namun USA yang cerdas (banyak mempunyai pemenang hadiah Nobel dan banyak manusia cerdas Yahudi) dapat menggulung regim Soeharto melalui nilai kurs dollar yang luar biasa tingginya dan internet (apakabar.net). Dengan demikian, Indonesia seolah-olah ingin dilepaskan dari mulut harimau (USA dkk.), namun dimasukan mulut buaya (Arab/Timur Tengah). Akhirnya, regim Soeharto memang selamat-sehat walafiat; namun dengan hasil sampingan: Indonesia masuk sekaligus dua mulut: harimau dan buaya! Indonesia saat ini (2005) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. Indonesia yang kaya sumber alam, strategis posisi geopolitiknya, dan merupakan pasar yang besar bagi industri asing (karena jumlah penduduk > 200 juta) memang menarik untuk diperebutkan, pumpung bangsanya masih bodoh dan mendem agama! Tarik2an antara USA melawan negara2 ARAB untuk mendominasi pemerintahan SBY sangat kentara sekali (bagi yang paham politik)! Agama kok dipakai untuk menjebloskan bangsanya ke mulut negara lain!
- Begitu negara Timur Tengah (Arab, Iran, Syria, Libia, dst.) mendapatkan angin dari regim ORBA, maka Indonesia dilanda badai gurun Sahara yang berupa badai budaya Timur Tengah. Bangsa Indonesia lalu dibikin mabok/mendem agama, masyarakat dininabobokan dengan anggapan bahwa semua persoalan bangsa/dunia dapat diatasi hanya dengan agama saja. Masyarakat Jepang dikenal sebagai kecanduan kerja, tiada hari tanpa kerja, istilah kerennya: work alcoholic; sedangkan bagi masyarakat Indonesia, tiada hari tanpa dibumbui agama, mungkin istilah kerennya: religion alcoholic. Di negara modern ada falsafah time is money, di kita agak lain: time is religion! Ada iklan Coca Cola begini: Kapan saja, dimana saja, minumlah Coca Cola; di masyarakat kita seolah-olah juga punya iklan yang mirip, yaitu: Kapan saja, dimana saja, tengguklah hanya agama! Dari pengamatan kegiatan keseharian ini, dapat disimpulkan bahwa bangsa Indonesia sedang mabok/mendem agama! Dengan kondisi mabok agama, minimnya anggaran pendidikan, dan maraknya KKN, sudah dapat dipastikan bahwa bangsa Indonesia akan terus-menerus mengalami krisis kebudayaan dan kemunduran kualitas SDM. Krisis kebudayaan dan kemunduran kualitas SDM adalah sumber dari segala sumber berbagai krisis yang sedang dialami Indonesia. Agama kok dipakai untuk memabokan bangsanya!
- Osama, Baasyir, dan ulama radikal selalu menggunakan tameng agama Islam guna memerangi lawan politik mereka, terutama negara Barat. Orang miskin dan bodoh terutama di negara berkembang di brain wash untuk menjadi senjata utama mereka yaitu bom bunuh diri! Seolah-olah ayat suci mereka buat dan tafsirkan sendiri misalnya: bunuh diri, membunuh orang lain dan merugikan negara setempat adalah kehendak Tuhan sehingga mendapat pahala yaitu surga. Mereka sendiri tidak mau melakukan bom bunuh diri! Kembali lagi, agama dijadikan alat sumber pembodohan, kekerasan dan kekejaman! Manusia2 keturunan Arab seperti Baasyir, habib Riziq, Osama yang menginspirasi kekerasan justru di tokohkan dan dianggap pahlawan! Sungguh aneh, agama kok dipakai menjungkirbalikan nalar!
- Regim Orba dan regim militer (para oknum Jendral TNI AD, khususnya KOPASUS) menyadari bahwa rasa damai dan aman adalah kebutuhan mendasar manusia. Maka ketika terdesak oleh kaum Reformis, mereka mendanai, mengorganisasikan, dan menggerakan berbagai kerusuhan di bumi Nusantara, terutama menggunakan atribut Islam, misal Front Pembela Islam. Kerusuhan di Ambon, Pontianak, Poso, dst. adalah ulah mereka. Sebenarnya untuk menangkap otaknya/pendananya, cukup mudah sekali, cukup melacak aliran dana di Bank dan menyadap via telepon serta internet; namun Badan Intelijen (BIN) tidak melakukannya, mengingat BIN selama ini justru menjadi alat militer tuk berkuasa; musuh BIN yang terutama adalah justru manusia Indonesia yang baik dan idealis (bukan musuh dari luar). Pensiunan BrigJen Sumarsono, waktu itu Sekjen PBSI, ditangkap dengan milyaran rupiah uang palsu. Para pengamat politik supercerdas langsung tahu bahwa uang palsu itu untuk membayari para preman perusuh; jadi ada maksud untuk sekaligus mengacau keamanan (kerusuhan) dan mengacau ekonomi (uang palsu), luar biasa liciknya para oknum jendral AD itu. Dengan diciptakannya berbagai kerusuhan, patahlah kepercayaan rakyat pada Reformasi, dan rakyat rindu pada regim militer lagi. Rakyat juga dibodohi bahwa telah terjadi reformasi, padahal sama sekali belum terjadi mengingat yang baru turun dari singgasana hanyalah Suharto, sedangkan semua posisi penting dalam birokrasi dan militer (terutama TNI AD) masih dikuasai regim Suharto. Para oknum jendral AD di Mabes Cilangkap memang pintar, mereka selalu berada diantara bandul jam “radikal dan nasionalis”. Ketika mereka terdesak oleh kaum Nasionalis, maka kaum radikal sengaja dibesarkan/dihidupkan, dengan demikian kaum Nasionalis jadi keder nyalinya; sebaliknya bila regim Militer terdesak kaum radikal Islam, maka regim militer akan berbalik ke kaum Nasionalis untuk bersama-sama menghabisi kaum radikal. Dengan strategi ini, para oknum pejabat militer akan selalu mendapatkan dana pengamanan yang luar biasa (baik dari negara maupun dari kaum minoritas yang kaya raya). Pemilu terakhir yang dimenangkan SBY, regim militer mensponsori dan menggunakan PKS (dari mana dana partai gurem ini?). Partai reformis selain PKS, hampir tidak pernah di cover di televisi, sebaliknya PKS terus-terusan dimunculkan. Pemilu waktu itu didominasi oleh: rebutan para kyai (bukan para professor), rebutan sultan (Yogya/Solo/Cirebon), ziarah ke makam2 dan berdangdutan; nuansa keilmuan, kampus, science tidak ada sama sekali! Memang benar, reformasi tidak akan terjadi bila media informasi dikuasai regim ORBA. Disini nampak jelas bahwa di Indonesia agama sekedar jadi alat permainan untuk dipakai mengelabui bangsanya sendiri, tidak heran Tuhan sepertinya menjauhi Indonesia!
- Beberapa hari sebelum pemungutan suara pada pemilu presiden 2004, bom sengaja diledakan di depan Kedubes Australia. Saat pemungutan suara, TV BBC Inggris mewancarai seorang pencoblos, pencoblos itu mengatakan tidak mau memilih Megawati lagi dengan alasan banyaknya bom yang meledak, terutama yang barusan meledak di kedubes itu. Itu adalah salah satu faktor penentu kemenangan militer kembali. Sungguh jitu strategi para oknum Jendral AD ini! Kemudian, pengebomnya berhasil dibekuk, padahal strategi ini buatan mereka sendiri (memakai radikal Islam)! Jadi sekali tepuk mereka dapat dua point: menang pemilu & rakyat tambah percaya pada militer (bisa membekuk pelakunya). Berbagai kerusuhan dan adu domba di Nusantara di outsourcingkan (disubkontrakan) kepada pihak ketiga (misalnya Pemuda Pancasila, Laskar Jihad, FPI, dst) melalui makelar, kemudian makelarnya dibinasakan. Sebagai contoh, kasus dukun santet di Banyuwangi; otaknya di Jkt (pada umumnya petinggi RPKAD), pelaksananya preman2 luar Jkt dan luar Bwi; setelah sukses, makelarnya dihabisin, sehingga benang merah koneksi antara otak di Jkt dan pelaksana di BWI terputus; jadilah kasus itu sekedar kasus lokal, pejabat busuk di Jkt seolah-olah tidak terlibat. Kembali agama hanya jadi sekedar bulan2an para oknum pembesar AD di Cilangkap dan di BIN.
- Bila dicermati, kotbah2 agama selama bulan Puasa yang disiarkan radio dan televisi yang masih dikuasai regim Orde Baru (group Cendana, Sudwikatmono, Liem S. Liong, dst.), justru dipakai untuk melemahkan penegakan moral bangsa; kebanyakan isi kotbah bersifat "top down" (penuh titipan para pejabat bermasalah). Bagi rakyat jelata yang miskin, kotbah ditujukan agar rakyat selalu tetap tahan menderita dengan gaji yang rendah dan dapat selalu memahami berbagai ketidak adilan yang terjadi (jangan demo, jangan berontak, jangan ini, jangan itu, melainkan tetap patuh, mengalah, dan nrimo), karena semua penderitaan itu akan menghasilkan rahmat dan berkah. Rakyat juga terus dihimbau tuk memafkan kejahatan masa lalu para pelanggar HAM, sebab dengan memaafkan kita juga akan dimaafkan. Bagi pejabat tinggi/birokrat/jendral para pelaku KKN dan pelanggar HAM berat, kotbah disuasanakan sesejuk mungkin, misalnya dibulan rahmadan (malam seribu bulan) ini langit dan surga akan terbuka, akan terjadi pengampunan penuh, apapun kejahatannya dan betapapun besar kualitas kejahatannya, mereka akan diampuni dan masuk surga tanpa syarat apapun, misalnya syarat harus mengembalikan harta hasil jarahannya bagi pelaku KKN, dan syarat mengakui pelanggaran HAM yang telah terjadi, minta maaf, serta memberikan ganti rugi bagi korbannya. Disini Tuhan dipahami hanya sebatas Maha Pengasih dan Pengampun (mengenakan oknum Pejabat); Maha Adilnya sengaja dihilangkan (seharusnya Maha Adil lebih ditekankan, agar manusia berpihak ke rakyat jelata yang tertindas, dan menuntut para oknum untuk pengembalian harta KKN dan pengusutan hukum yang tuntas). Tidak heran bila dalam laporan internasional yang baru saja diterbitkan, ternyata 20 negara terkorup dan pelanggar HAM terberat justru negara-negara yang hiruk-pikuk dan hingar-bingarnya (formalitas) agama dinegara itu luar biasa kuatnya; misalnya negara2 Amerika Latin yang didominasi agama Katholik dan negara2 Timur Tengah, Banglades, Indonesia, Pakistan yang didominasi agama Islam. Bila dicermati, di perumahan2 mewah, para koruptor kelas kakap dan para pelanggar HAM berat ini menampakan diri sebagai kaum yang religius sekali; rajin sembahyang dan sedekah! Ulama, habib, ustadz, HMI, KAHMI, MUI, ICMI, Muhammadiah dan NU tidak pernah mau menuntaskan masalah KKN dan militerism. Mereka ini bak sekedar alat politik; mereka sekedar pemburu harta dan kekuasaan; mereka terus-menerus menina bobokan dan membuat bodoh bangsa Indonesia. Mereka tidak pernah memperjuangkan gaji yang layak dan adil bagi pegawai/PNS. Gaji yang rendah sekali bagi buruh dan PNS serta rasio gaji antara pegawai rendah dan tinggi yang luar biasa tingginya (misal gaji terendah 0,5 juta, pejabat tinggi BUMN menerima 50 juta, rasio 1:100!), inilah yang menyebabkan kemiskinan struktural yang disengaja dan sumber segala sumber berbagai KKN. KKN bagaikan disarankan dan dilegalkan oleh pemerintah dan agama Islam, maka hampir semua PNS melakukan korupsi: siang maling uang atau korupsi waktu kerja, malam berdoa untuk minta maaf atas kejadian siang harinya kepada Tuhan, sungguh bangsa ini dibikin munafik oleh pemerintah dan agamanya sendiri! KKN yang semestinya menjadi hantu nomor satu negara, justru tidak pernah dituntaskan dan diangkat menjadi sumber dari segala sumber berjihad!!! Agama kok justru dipakai untuk melemahkan penegakan moral bangsa dengan cara meniadakan sifat Maha Adil Tuhan!
- Setiap bulan Ramadhan, hampir 40 hari lamanya bangsa ini sangat turun produktivitas dan effisiensinya, bangsa yang kurang rajin bekerja ini malah tiap tahunnya dianjurkan untuk seolah-olah bermalas-malasan atau istilah yang tepat “mendem/mabok agama”. Demikian pula saat bulan naik haji, hampir 45 hari full, bangsa Indonesia dibuat mabok kepayang dengan agama. Pengkoveran berita lewat berbagai media terutama TV pun luar biasa dan berlebihan: sebelum buka dan sebelum saur, lalu-lintas selama Lebaran; berapa jam kerja atau berapa jam tayang TV dihabiskan untuk hal yang semestinya dapat untuk memajukan pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi; padahal isi khotbah kebanyakan titipan penjabat (mohon dibaca point diatas). Demikian pula bagi pejabat pemerintah yang naik haji (seringkali dengan biaya negara alias plat merah), seminggu sebelumnya sudah ijin untuk tidak bekerja, kemudian 30 hari ada di Mekah, sepulangnya masih minta ijin seminggu lagi untuk berpesta-pora, berhura-hura, dengan kerabat keluarga, tetangga dan teman sekerja. Kalau ditotal, hampir selama 45 hari (1,5 bulan) pejabat itu mangkir dari kerja, luar biasa!!! Sudah mangkir bekerja masih, dan pelaku KKN, masih mengaku mendapatkan surga, sungguh luar biasa paradoksnya. Demikian pula hobi umat Muslim untuk kumpul2 keagamaan, namun jarang kumpul2 keilmuan; kumpul2 keagamaan sering melahirkan penghakiman/kecurigaan terhadap kelompok/agama yang lain; dinegara maju/modern, masyarakatnya lebih tertarik untuk bekerja daripada kumpul2 bermalas-malasan. Semuanya hal diatas mengatas namakan Tuhan YME!!! Disini agama dipergunakan untuk menghambur-hamburkan uang negara, waktu dan membuat malas bangsanya!
- Praktek sehari-hari umat Islam yang tanpa disadari telah melakukan pelanggaran HAM, mengganggu ketertiban umum dan mendorong kekerasan masyarakat. Sebagai contoh: suara azan masjid yang luar biasa kerasnya di keheningan pagi (sekitar jam 4.30, subuh) yang bagaikan suara orang kesurupan setan Arab dan mengandaikan Tuhan itu bagaikan tuli! Saat dimana manusia yang lelah bekerja sedang tertidur pulas atau orang yang sakit keras sedang membutuhkan keheningan, eeehhh malah diganggu dengan suara hingar bingar lewat loud speaker yang bertengger dipuncak–puncak masjid. Demikian pula disiang hari bolong, semua orang disekitar masjid, diganggu hingar-bingar kotbah, manusia sekeliling mesjid senang atau tidak senang dipaksa mendengarkan kotbah (yang seringkali bermutu rendah). Hingar-bingar suara masjid ini menjadikan manusia waras-normal menjadi sangat terganggu privacynya. Dinegara Turki, negara Islam yang modern, hingar bingar suara masjid tidak diperkenankan! Selain itu, umat Islam diajarkan untuk selalu memberi salam khas Islam dan dengan bhs. Arab kepada siapapun, kapanpun, dimanapun, apapun agamanya (misalnya: Assalamulaikum …wr. Wb…), dengan diiming-imingi sebagai poin penting untuk masuk surga. Bukan main diktator dan tidak menghargai perasaan orang lain dan kebudayaan sendiri, bukankah dapat dengan salam: “Selamat pagi/sore/apakabar/dst? Disini agama terkesan suka mengganggu ketertiban umum, tidak menghargai perasaan umat lain serta tidak menghargai kebudayaan sendiri!
- Demikian pula penggunaan istilah2 Islam/Arab seperti kata islah dan hibah. Islah untuk menyelamatkan para pelanggar HAM kelas berat (misal kasus Priok, dimana para oknum jendral memanipulasi ulama untuk islah). Hibah untuk menyelamatkan para pelaku KKN kelas berat (banyak birokrat menjadi konglomerat plat merah, padahal boleh dikata tak mungkin pegawai negeri mempunyai kekayaan diatas 2 milyar kecuali KKN; maka digunakan istilah hibah untuk menjelaskan hartanya kepada Komisi kekayaan negara). Dinegara non Islam pasti mereka ini sudah dihukum mati, di bumi Nusantara ini, yang pasti mati adalah maling ayam, sedangkan yang semestinya dihukum mati (pelanggar HAM dan koruptor kelas berat) malah sering muncul di TV dan tetap dihormati! Agama kok tidak mendorong keadilan, malah terkesan sengaja menyediakan persembunyian yang aman bagi berbagai pelaku penyelewengan kelas berat.
- Sangat memprihatinkan bahwa berdasar fakta2 selama ini, ternyata berbagai kerusuhan di Indonesia justru diawali dari kumpul2 kegiatan keagamaan, misalnya pengajian, sholat Jum'atan, Tabliq Akbar ataupun Istigozah, suatu paradoxial yang maha luar biasa! Kegiatan keagamaan menjelma menjadi kegiatan kerusuhan yang seringkali membawa korban jiwa manusia. Sebelum Islam masuk Indonesia, dijaman kerajaan berbasis Kejawen, Budha dan Hindu, kekerasan, kerusuhan dan pertentangan berbasis agama/kepercayaan tidak pernah terjadi. Kota Solo yang dulunya terkenal dengan putri Solonya dengan adatnya yang halus, lembut, lemah gemulai, dan manusiawi telah disulap Baa’syir dkk (orang2 Arab) menjadi kota yang ganas, keji dan gemar kerusuhan! Kejawen yang indah, harmonis dan pembawa damai ditekan (tak boleh ada di KTP)! Aneh, disini agama menjadi 180 derajat beloknya, dari sembahyang langsung membuat amok masa dan kerusuhan!
- Bali di bom, hotel Meriot di bom, kedutaan di bom, gereja dibom, dst. Generasi muda dipedesaan dicuci otak melalui pesantren2 untuk membunuh orang lain dengan membunuh diri (bom dililitkan dibadan); padahal hal ini sangat merugikan negara (investor/turis jadi takut, lapangan kerja menyusut drastis; dan orang Indonesia yang keluar negeri menjadi dipersulit). Ini mereka sebut ajaran mati sahid dengan ganjaran masuk surga. Ketika diadili, pelaku pembom ini teriak2 bagaikan kesurupan setan Arab: “Allahuakbar.. Allahuakbar… Allahuakbar”. Begitu bodohnya mereka itu, yang mereka pahami cuma bahasa Arab yang artinya Tuhan yang Maha Besar bukan Maha Pengasih dan Penyayang. Begitu hebatnya orang Arab mencuci otak manusia Indonesia, begitu superiornya si Arab Baa’syir ketua Jemaah Islamiah itu, ia sendirian bisa mengobrak-abrik Indonesia, betapa menyedihkan, lemahnya, dan rendahnya kualitas manusia Jawa (suku yang mayoritas) itu, yang tidak sadarkan diri (mabok agama) hingga detik ini!!! Agama kok dipakai untuk “menidurkan bangsanya sendiri”, mengajarkan bahwa bunuh diri, membunuhi orang lain serta merugikan negaranya sendiri itu masuk surga, aneh!
- Kepala arca Budha di candi Borobudur dipenggal oleh habib buta dari Malang, ketika diadili, ia juga kesurupan setan Arab (menggigau dan sholat didepan sidang: “Allahuakbar..). Di Afganistan, saat dikuasai Taliban: wanita bagaikan dipasung, tv dan musik tidak boleh didengarkan, relief Budha yang sangat bersejarah dihancurkan. Monumen2 sejarah Budha, Hindu, Kristen, yang berupa candi2, pertapaan, katedral, kelenteng, kraton2, begitu indah dan agungnya dan menghasilkan devisa bagi negara Indonesia (tourist); sedangkan monumen Islam adalah justru rusaknya monumen2 agama lain itu! Agama juga dipakai untuk: - agitasi/provokasi membenci suku dan bangsa lain, misalnya menanamkan perasaan anti orang Cina/Tionghoa (padahal Alquran mewajibkan untuk menuntut ilmu s/d ke Cina, bukan hanya ke Arab); - menanamkan perasaan anti Barat dan Cina karena kekalahan kebudayaan Arab dalam berbagai hal (terutama dalam science, teknologi dan bisnis); - eksklusip: misal maraknya kost2an dikota-kota besar dengan label: hanya untuk Muslim. Mereka ini aneh: marah2 kepada Barat namun mereka belajar IPTEK dan memakai produk Barat, bukan produk Arab. Agama kok mengajarkan anti pluralisme, mengajarkan ingin menangnya sendiri, mengajarkan iri-cemburu dengan kemajuan peradaban yang dicapai oleh kebudayaan/keyakinan diluar Islam/Arab!
- Buku2 bermutu yang mencerdaskan bangsa di sweeping, kadang2 penerbitannya dilarang, bahkan pengarangnya ada yang difatwa mati (misal Salman Rusdi, politikus dan sastrawan Belanda, Ulil Absar Adhala, dst.). Sekolah2 Kristen/Katholik diganggu (kasus terakhir: SD Sang Timur di Tangerang/Jakarta diserbu radikal Islam; presiden SBY, DPR, Muhammadiyah, MUI, dst. diam saja, padahal mereka hanya beberapa km dari lokasi; justru Gus Dur yang turun tangan. Ketakutan umat Arab untuk berdemokrasi, berpikir secara rasional, berdebat (tertulis maupun lisan) dan berkebebasan berpendapat tentang keyakinan sungguh mengherankan; sebab Tuhan itu Maha Cerdas, Maha Cerdas pasti suka debat, bukan main sweeping dan larang-melarang, jadi seseorang yang cerdas pasti suka debat, karena debat mengakibatkan kemajuan.. Dinegara maju, apa saja boleh dan justru dianjurkan untuk diperdebatkan (termasuk keyakinan), asal debatnya bermutu dimana kaki dan tangan (kelahi) tidak boleh ikut diapakai dalam adu gagasan! Memang, ada kemungkinan agama akan ambruk oleh adanya demokrasi, rasionalisasi, kebebasan berpendapat dan debat, seperti ambruknya gereja Katholik di Eropa pada sekitar abad 18 an. Monopoli dan otoritarian ajaran agama oleh pemuka agama menyandikan posisi mereka tidak tergoyahkan dinegara berkembang. Tidak mengherankan bila di Timur Tengah yang penuh dikuasai kyai, ulama dan raja, takut setengah mati dengan demokrasi, rasionalisasi, dan kebebasan berpendapat. Pemuka agama takut debat, lalu mereka mengatas namakan Tuhan bahwa Tuhan tidak suka debat dan Tuhan perlu dibela, dan keyakinan adalah harga mati-sesuatu yang beku dan statis.Agama kok dipakai untuk memonopoli kebenaran dan takut berdebat untuk adu gagasan atau bersaing dengan kebenaran yang lain yang lebih modern, lebih rasional, dinamis, dan lebih manusiawi; bukankah sekolah, buku dan debat adalah sumber kemajuan, mengapa harus dihambat, dikacau dan dimusnahkan, mengapa Tuhan Yang Maha Cerdas dianggap bodoh, tak boleh didebat, dan Tuhan diangap bagaikan takut akan demokrasi, rasionalisasi, serta kebebasan berpendapat?
- Dept. Agama dan Dept. Pendidikan merintis kerjasama dengan negara Sudan dan Universitas Sudan. Saat ini Sudan (mayoritas Islam) dalam sorotan dunia karena disana telah terjadi genocide oleh suku Arab terhadap suku lokal Afrika melalui kekerasan, perkosaan dan pembunuhan. Barang siapa melihat wajah negara Sudan melalui TV akan sangat terkejut, negara ini ternyata sangat tertinggal dan miskin! Demikian pula, dalam suatu siaran TV, diberitakan bahwa Pemuda Pancasila (PP, organisasi preman) telah mendirikan Pesantren di Kalimantan Tengah/Palangkaraya. Dalam acara itu diperlihatkan bagaimana preman level Nasional: Sapto dan Yoris K (pimpinan PP) meresmikan pesantren yang telah dibangun, dan ini direstui oleh jendral Riamizad Riacudu. Manusia supercerdas tahu bahwa ada dana yang besar sekali (trilyunan rupiah) dari organisasi sumber kekerasan dunia yang berpusat di Timur Tengah (sekelompok dengan Alqaeda) yang mengalir lewat negara ketiga (misal Sudan, supaya dana sulit dilacak) dan organisasi “nakal” (seperti PP) untuk mendirikan basis-basis Islam radikal di kantong2 kemiskinan atau daerah pedesaan. Betapa mudahnya melacak berbagai sumber kekerasan di Indonesia dengan melacak sumber dana melalui rekening bank, internet dan telepon; namun ini tidak dilakukan oleh badan Intelijen kita (atau dirahasiakan). Aneh, agama kok dipakai untuk membodohi bangsanya sendiri, kerjasama kok dengan negara yang levelnya bak jaman batu!
- Didalam KTP harus tercantum agama, keyakinan/kepercayaan tidak boleh dicantumkan. Menikah harus lewat agama, catatan sipil tidak diakui. Perkawinan campur antar agama dipersulit, sehingga terpaksa dilakukan dibawah tangan atau keluar negeri (bagi yang banyak uang, seperti kaum selebritis). Dikota-kota pendidikan seperti Bandung, Yogya, Solo, dst., kost2an menjadi sangat SARA; banyak yang memasang reklame: “Menerima kost hanya bagi yang beragama Islam”. Perlahan demi perlahan, cara berpakain, bernyanyi, dan berbahasa dikiblatkan ke Timur Tengah/Arab. Sungguh menyedihkan dan memprihatinkan, kepercayaan, kebudayaan dan tradisi luhur yang diwariskan dan dimiliki oleh suku2 asli Indonesia seperti Kejawen, surjan, blangkon, secara halus dan perlahan dimusnahkan secara licik oleh kebudayaan asing yang menyusup lewat agama asing! Kelemah lembutan, sopan santun, dan kehalusan budi pekerti manusia Jawa berangsur-angsur tergusur oleh sikap keras, kasar, dan mau menang sendiri dari kebudayaan Arab. Ingat semua agama sangat dipengaruhi oleh kebudayaan negara asalnya. Agama asing (dari Arab) kok dibiarkan menghancurkan harta warisan kebudayaan yang tak ternilai harganya dan luhurnya, masyarakat yang dulu harmonis menyatu menjadi tersekat dan tegang. Dan s/d saat ini umat Islam Indonesia kelihatannya sudah hilang kesadarannya (mabok agama), malah bagaikan digendam agama Arab! Sedih sekali, agama kok dipakai menindas kebudayaannya sendiri yang lebih baik!
- Di Indonesia, pelurusan sejarah 1965 untuk menelanjangi coup detat dan pelanggaran HAM berat oleh TNI AD terus dihambat oleh para oknum Jendral melalui ulama dan cendekiawan Islam yang sebagian besar telah "terbeli" oleh regim Orde Baru. Diberbagai kota terpampang spanduk:”Awas bahaya latent PKI”, dipasang oleh Liga Muslimin Indonesia. Demikian pula aksi2 organisasi FPI (Front Pembela Islam), yang menjadi peliharaan regim ORBA dan bablasannya. Padahal bahaya latent regim ORBA dan militer lah yang semestinya diwaspadai! Di Madiun, beberapa kyai menghimpun massa untuk dibrain washing tentang bahaya latent PKI. Di televisi sejarahwan palsu Doktor Anhar Gonggong dan pakar milter Salim Said (keturunan Arab) sering ditampilkan untuk menghipnotis bangsa dan memelintir sejarah. Agama kok dipakai untuk merintangi pelurusan sejarah, menindas yang benar (dan yang menjadi korban kekerasan), mengalihkan perhatian, mengkambing hitamkan, serta membiarkan generasi mudanya diracuni dengan sejarah palsu!
- Rakyat didorong untuk berbondong-bondong naik haji walau posisi ekonominya pas-pasan, dengan diiming-imingi menjadi tamu Allah di Mekah dan dijanjikan dosanya diampuni serta mendapatkan kapling di surga; seolah-olah surga atau Tuhan itu dapat dibeli dengan uang dan dengan harga yang murah sekali (diobral dengan harga super murah)! Tidak mengherankan bila pejabat negara pelaku KKN dan pelanggar HAM gemar benar dengan konsep ini, maka mereka ini gemar dan berkali-kali bolak-balik naik haji, seringkali dengan uang rakyat: alias haji plat merah! Contoh lain adalah kasus suku Betawi yang terdesak ke pinggiran, mereka juali tanah mereka di Jakarta yang strategis untuk naik haji (tanpa menggunakan skala prioritas: misal pendidikan anak mereka sampai ke PT adalah lebih penting), kemudian setelah pulang, mereka menjadi terdesak kedaerah pinggiran Jakarta, dan menjadi kaum "miskin" dan terbelakang yang tersisih, lalu dihibur dengan politik kebudayaan dengan didirikannya "cagar Betawi". Sudah begitu, pengurusan haji menjadi monopoli Dept. Agama, sehingga ongkos naik haji menjadi termahal didunia; dan Depag menjadi dept. terkorup dibumi ini. Agama kok dipakai untuk: membodohi rakyat, tidak mengajarkan prioritas, dijadikan sumber korupsi, melemahkan moral pejabatnya (dengan adanya pengampunan dosa tanpa syarat), merendahkan martabat Tuhan YME (seolah-olah dapat disuap dengan harga murah demi surga) dan oleh negara lain dipakai untuk menguras uang rakyat negara itu (ke negara Arab)!
- Setiap bulan Ramadhan, dibeberapa daerah bunyi dar der dor mercon yang memekakan telinga yang tidak kenal waktu selalu ada. Demikian pula suara doa yang hingar-bingar dari loud speaker masjid sangat menganggu kelelapan tidur atau belajar dari masyarakat disekelilingnya. Ronda pagi hari untuk membangunkan orang agar saur dengan bunyi2an yang menganggu ketenangan warga juga dilaksanakan. Tempat hiburan dilarang untuk ini-itu dan gini-gitu walaupun bukan untuk umat Islam, pelarangan ini diikuti dengan razia tempat hiburan oleh massa Muslim (sering berakhir dengan pemalakan/pemerasan). Sementara itu, setiap bulan Ramadhan harga barang2 mengalami kenaikan luar biasa harga tiketpun juga dilipat-gandakan, maka terjadi inflasi setiap tahunnya! Atas nama agama, rakyat dibiasakan/dibudayakan untuk: menikmati liburan dari lahir sampai mati hanya hilir-mudik dari kota kerja kedesa masing2 itupun dengan berdesak-desak seperti ikan asin/teri dan dengan biaya tinggi, serta membudayakan konsep “mangan ora mangan kumpul”. Bagi para pelakunya, hal ini merupakan kebanggaan, bagi pengamat lain hal ini merupakan kejanggalan dan kebodohan. Rakyat tidak dididik dan didorong untuk melihat begitu indahnya daerah lain atau negara lain, rakyat lalu bagaikan katak dalam tempurung dan menjadi kesukuan! Dinegara maju, hari besar agama tidak dipakai untuk memeras rakyatnya, melainkan untuk menyejahterakan umat dan bangsanya (harga barang2 justru turun)! Agama kok tidak membawa berkah, malah mengganggu ketenangan umum, menghambat pluralisme dan selalu menambah beban berat ekonomi rakyat!
- Buruh migran Indonesia (para TKI/TKW) adalah pahlawan negara namun dinegara yang mayoritas Islam ini mereka diperlakukan bagaikan sampah masyarakat; kisah pilu mereka muncul hampir setiap hari, misalnya ada yang diperkosa, diperas/ditipu, disetrika, bahkan dibunuh atau dihukum mati. Seringkali kasus pemerkosaan justru terjadi di negara Timur Tengah, yang Islami, misalnya Arab Saudi. Namun Muhammadiyah, NU, MUI, ICMI, HMI, dst., serta UI, ITB, UGM, IPB, ITS, dst… diam saja. Bantuan hukum, perhatian, dan perbaikan sistem bagi mereka boleh dikata tidak pernah ada. Aneh agama kok tidak berpihak kepada yang terzalimi dan tertindas!
- Semenjak berhasil membunuh ratusan ribu manusia bangsanya sendiri (termasuk Bung Karno, tragedi 1965) tanpa bisa dijamah hukum (pembantaian dipimpin oleh Sarwo Edhi, pimpinan RPKAD, mertua presiden SBY, yang mati muda secara mengenaskan), para oknum jendral AD (regim militer) ini terus meraja lela dalam bisnis bunuh-membunuh dan adu domba antar SARA atas bangsanya sendiri, misalnya saja tragedi: Munir, Baharudin Lopa, Agus Wirahadikusumah, Trisakti, Mei 98, Solo, Timtim, Semanggi, Kudatuli PDIP, Ambon, Banyuwangi, Pontianak, Priok, Aceh, dst. Selain itu, cucu, cicit para anggota PKI “dibunuh kemanusiaannya secara perlahan” melalui berbagai hambatan legal/formal; sungguh luar biasa kejamnya. Para otak pembunuh, pada umumnya oknum jendral AD yang kebanyakan berasal dari resimen RPKAD, ini sekarang banyak menduduki jabatan tinggi: Luhut Panjaitan, Agum Gumelar, Sutiyoso, Prabowo (yang dekat sekali dengan Pemuda Pancasila), Arie Sudewo, dst. Mereka ini gemar tampil di TV diantara para ulama (jurus “bunglon” agar kelihatan suci)! Mereka sering membesarkan/mengkader ulama dengan cara menokohkan para ulama ini dengan sering menampilkannya di televisi. Bisnis militer mereka yang hitam kelam dan tidak bisa dikendalikan oleh negara amat sangat merugikan bangsa. Memang, semua pegawai negeri boleh dikata melakukan KKN karena gaji kecil. Petugas kelurahan mengutip uang jasa untuk KTP; seorang dosen PTN korupsi waktu dengan cara mengajar di PTS atau buka perusahaan sendiri; nah yang paling berbahaya adalah para militer/polri, mereka mengkaryakan senjata dan kekuasaan, misalnya menjadi pelindung/pelaku: ilegal logging, bisnis narkoba, penyelundupan, perjudian, dan pelacuran! Mereka, para militer/polri (terutama pejabat tingginya), bagaikan pagar makan tanaman, cara bisnis mereka telah memporakporandakan ekonomi negara! Mestinya mereka menjadi sumber rasa aman dan tentram, namun justru sebaliknya, mereka menjadi sumber: narkoba, pembunuhan, penculikan, perkosaan, pemerasan, adu domba, kerusuhan, dan kekerasan. Mereka bagaikan preman plat merah. Mereka mengotaki, membentuk dan melatih organisasi yang suka kekerasan seperti: Satgas, pamswakarsa, Pemuda Pancasila, berbagai front kesukuan/agama: Front Betawi, Front Pendekar Banten, Front Madura, Front Pembela Islam, Front Buruh …, dst., sehingga isu SARA menjadi semakin panas! Kekayaan para petinggi militer dan polri ini sungguh luar biasa, dapat mencapai trilyunan; kebanyakan berkat/hasil konspirasi desktruktip bersama para preman politik, birokrasi dan konglomerat hitam melalui KKN. Karena saking mudahnya mengumpulkan kekayaan, maka keluarga mereka menjadi kehilangan makna kehidupan, anak2 jendral ini banyak yang menjadi pembunuh, misalnya: Panca Sutowo (anak jendral Ibnu Sutowo, koruptor terbesar di Pertamina) membunuh karyawan Hotel Hilton seperti bagaikan membunuh lalat; Tommy Soeharto membunuh jaksa dengan suruhan pembunuh bayaran, selain itu ia duel pistol ala cowboy melawan kakaknya yang mengakibatkan peluru nyasar yang menewaskan ibu Tien Soeharto; anak jendral Sobagyo HS (mantan ASPRI presiden) tertangkap sebagai pengedar narkoba kelas kakap di suatu hotel, padahal anak itu adalah anggota KOPASUS! Begitulah, kehidupan para oknum jendral Militer dan POLRI ini telah kehilangan maknanya saking mudahnya mendapatkan kekayaan yang tidak halal, tidak heran dengan hilangnya rasa kemanusiaan mereka, Indonesia terus menerus dilanda kerusuhan, kekerasan dan keributan; profesionalisme mereka lenyap diganti keahlian: bisnis, politik, dan adu domba!
- Militerism beserta radikalism Islam telah membuat bangsa ini bagaikan barbar kembali! Aneh kita tidak tahu mengapa umat Islam (dan organisasinya: HMI, MUI, ICMI, Muhammadiah, NU, dst.) di negeri ini diam saja, paling banter mereka orasi hal yang muluk2 dan indah2; namun kering tindakan nyata. Bahkan tersirat mereka suka memberi kekebalan hukum atau justru terkesan menghormati dan melindungi para bandit serta begundal yang hidupnya sudah dibasahi dan selalu haus darah para korban (notabene bangsanya sendiri)! Agama kok dipakai untuk menjadi sarang persembunyian, mengayomi bahkan bekerjasama dengan pembunuh/koruptor!


Penutup

Regim Soeharto telah mengakibatkan lima faktor utama penyebab Indonesia tidak pernah mandiri dan terusmenerus mengalami krisis, yaitu terpaan: a) badai salju yang dingin-membekukan dari negara barat/modern yang ingin menjajah ekonomi/teknologi dan mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia; b) badai gurun Sahara yang panas-membara dari negara Timur Tengah yang ingin memporak-porandakan budaya asli, meningkatkan budaya kekerasan serta kerusuhan dan menguras devisa negara; c) badai KKN yang merampok keuangan dan membangkrutkan bangsa, yang juga menyebabkan Indonesia terjebak hutang maha besar serta ekonomi/bisnis Indonesia dikuasai oleh konglomerasi internasional yang bekerjasama dengan para konspirator nasional jahat yang terdiri atas: politisi busuk-konglomerat hitam-birokrat keranjang sampah dan jendral berhati preman dari TNI AD/POLRI, d) badai SARA yang meningkatkan kecurigaan berbasis suku, agama, ras, dan golongan antar masyarakat! Sungguh licik dan sangat kejam, untuk mempertahankan kekuasaannya selama 32 tahun, regim Soeharto menggunakan politik devide et impera: memecah belah bangsanya sendiri! Manusia Jawa dianggap penjajah oleh manusia non Jawa (sebab pembangunan yang Jawa sentris), etnik Tionghoa dicurigai oleh manusia pribumi, manusia Ambon saling diadu domba, etnik Madura diadu dengan etnik Dayak, manusia dan kebudayaan Jawa ditelantarkan, manusia dan kebudayaan Arab ditinggikan. Oleh regim Soeharto, seolah-olah telah dibuat agar tiap etnik merasa etniknya dianak tirikan dan etnik lain ditinggikan, sehingga timbulah rasa saling curiga yang dalam antar etnik; f) penyeragaman dan penindasan budaya nasional (bukan pengembangan) yang mengakibatkan kemunduran SDM. Dengan demikian, semenjak 1965 s/d detik ini (2005), bangsa Indonesia boleh dikata telah dijajah kembali oleh konspirasi jahat internasional yang bersimbiose mutualitis dengan konspirasi jahat nasional yang tersentralisasi di Jakarta, sehingga boleh dikata Indonesia s/d saat ini belum merdeka sepenuhnya!

Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi menjadi belenggu bagi umat beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana penguasa politik, militer, birokrat, ekonom maupun agama bahu-membahu mendungukan manusia agar dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka. Seringkali kepentingan negara asing adalah termasuk faktor dominan didalam politisasi agama.

Senjata utama regim Soeharto (ORBA plus penerusnya) adalah: politisasi agama, money politics (terutama untuk membeli: ulama, ilmuwan kampus, dan anggota Parpol lain), penyusupan ke partai2 lain, pembentukan jaring mafia yang bagai multi level marketing (MLM) - dari Jakarta s/d pelosok desa, dan mendominasi mass media terutama televisi! Selain itu, mereka membutuhkan dukungan dari kelompok Militer dan POLRI; hal ini menjadikan betapa sulitnya mereformasi ABRI dan POLRI (karena politik identik dengan kekuasaan dan harta yang berlimpah)! Semua senjata ORBA ini bersifat merusak kehidupan berbangsa dan bernegara, serta daya rusaknya maha hebat (melebihi jaman penjajahan Belanda) dan berjangka panjang (antar generasi)! Regim Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler bagi Jerman), dengan strategi yang amat indah namun licik, beliau dan kroninya dapat membelokan reformasi, dan kini beliau dengan kroni-kroninya menikmati hidup dengan aman, tentram dan sejahtera! Peran organisasi Islam dalam penyelamatan regim terbusuk ini sungguh luar biasa! Secara maya dapat dibayangkan bahwa pada saat upacara pemberangkatan jenazah Soeharto nanti, maka mbak Tutut akan memberikan ucapan terima kasih mewakili keluarga Soeharto dan para kroninya dengan mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada: ICMI, KAHMI (diketuai Fuad Bawazir), HMI (diketuai Arnas Ubaningrum), MUI, Muhammadiah, dan last but not least Amin Rais, karena mereka semua telah mampu membodohi, menyusupi dan membelokan arah reformasi bangsa Indonesia, dan telah membuat para pelaku KKN serta pelanggar HAM kelas berat dapat hidup aman-sejahtera bebas dari jeratan hukum bahkan dapat meninggal secara terhormat (dimakamkan di Taman Pahlawan)! Saat ini (2006) jaringan Muhamadiah sudah menggurita dan melilit bangsa dan negara, kampus2 PTN dikuasai oleh network HMI dan KAHMI dengan pusat di Jakarta. Maka walau rakyat sedang terhimpit kemiskinan akibat naiknya: BBM, tarip listrik, tarip telpon, tarip gas, dst., namun jangan harap mahasiswa di UI, ITB, UGM, IPB, ITS, UNAIR, UNDIP, …, akan bergerak membela rakyat yang tertindas dan dizalimi sebab pemimpin2 mereka (Muhammadiah) di pusat sedang menikmati keduniawian yaitu uang dan kekuasaan! Tidak heran, kutukan Tuhan YME terus menerpa bangsa Indonesia yang dipenuhi oleh agamawan palsu dan munafik! Sejarah mengajarkan kepada manusia bahwa agama justru sering berperan negatip terhadap bangsanya, sampai2 Marx mengatakan bahwa agama itu candu atau bahkan racun masyarakat.

Sebagai penutup, kami juga mohon agar artikel2 ini disebar luaskan kepada para: intelektual, aktivis kampus, pemuka agama, dan cendekiawan keagamaan di segenap penjuru Nusantara dan ke seantero dunia baik secara: digital (diforwardkan/disimpan di archive suatu situs internet), suara (dibacakan di radio) maupun secara kertas (dicetak/dibukukan), dengan harapan untuk menjadi sumber pembahasan/diskusi yang sehat dan sumber riset mengarah ke doktoral (PhD) demi memicu pengertian yang lebih mendalam tentang kebudayaan, agama, politik, sex dan Tuhan. Uluran tangan untuk menterjemahkan artikel ini kedalam bhs. Inggris yang baik/standar agar dapat di publish secara internasional melalui internet sangat kami tunggu2. Dengan peningkatan kecerdasan melalui internet, diharapkan kualitas SDM Indonesia dapat meningkat tajam, sehingga diharapkan negara Indonesia (dan dunia) menjadi lebih aman, tenteram dan sejahtera. Sekian dan terima kasih.

Dari pengasuh web blog,
Paguyuban Penanggulangan Krisis Kebudayaan Nasional
di Yogyakarta
Email: CerdaskanNegara@yahoo.com

INDONESIA: BANGSA YANG SEDANG MABOK AGAMA!

1. Pengantar
Siapa tidak risau melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia. Ada berbagai agama besar dengan umatnya yang besar (terutama Islam), namun kasih sayang, ketentraman, kesejahteraan, kebenaran dan keadilan malah nyaris tidak ada. Atau justru sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan, ketidak adilan, kriminalitas, keterbelakangan, kemiskinan, ketidak jujuran, kemunafikan, korupsi, kolusi, dan berbagai pelanggaran HAM justru marak terjadi di Indonesia; dan barangkali mencapai index prestasi nomor wahid didunia. Kalau begini, apanya yang salah? Berikut ini adalah butir-butir analisis yang mendalam tentang masalah ini.

3. Keterbatasan Agama
Agama berbasis kitab suci. Dengan demikian, agama mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok seperti disebutkan dalam kitab-kitab suci Al-Quran dan Injil. Misal dalam Al-Quran ditandaskan bahwa apabila semua ajaran Allah SWT dituliskan, maka tinta sebanyak samudera rayapun tidak akan mencukupi. Demikian pula dengan Injil yang menandaskan apabila semua ajaran Isa Almasih dituliskan maka dunia beserta isinya pun tidak akan bisa memuat. Dengan demikian, kedua agama terbesar didunia ini menandaskan bahwa Allah adalah Maha Besar atau Maha Tak TERBATAS, jadi mana mungkin sesuatu yang Tak Terbatas (Allah, milyaran tahun) cukup dijelaskan oleh satu orang saja yang sangat terbatas (para nabi, yang umurnya mencpai k.l. 80 tahun)! Jika Allah itu dari minus tak terhingga (alpha, tak tahu kapan awalnya) dan berakhir di plus terhingga (omega, tak tahu kapan berakhirnya), maka seorang manusia yang hidup di suatu range (daerah) umur yang sangat terbatas (katakan 80 tahun) adalah tidak mungkin menjelaskan secara tuntas sesuatu yang tak terhingga (milyaran tahun)! Bumi dan universe sudah milyaran tahun, dan masih milyaran tahun lagi, maka seribu, sejuta atau bahkan semilyar nabi disertai ilmuwan tidak akan pernah selesai mempelajari universe dan Tuhan! Jadi, benarlah ayat-ayat diatas, ke "Mahabesaran Tuhan" tidak mungkin cukup diwadahi dalam buku setebal/setipis kitab suci. Ke "Mahabesaran Tuhan" juga tercermin pada luas dan dalamnya ilmu pengetahuan. Ilmuwan di negara modern sudah tidak lagi mencari hanya agama yang terbatas, melainkan selalu terus mencari Tuhan beserta rahasiaNya (ilmu pengetahuan) yang tak terbatas namun sangat indah untuk terus menerus dieksplorasi. Maka sungguh sangat besar dosa para pemuka agama terhadap Tuhan bila mereka terus menerus mengajarkan bahwa “Tuhan itu Maha Terbatas” (membatasi Tuhan), dan sungguh besar dosa para pemuka agama terhadap manusia bila mereka terus menerus mengajarkan “agama yang bernuansa SARA” (agama justru menjadi sekat/pembatas antar manusia).

2. Definisi Mabok Agama
Definisi mabok atau mendem (Jawa) adalah keadaan dimana seseorang mengkonsumsi/memahami tentang sesuatu/paham yang melebihi batas normal/kewajaran; orang yang mendem menjadi seperti: tidak normal tingkah lakunya, tidak wajar cara berpikirnya (bloon, tidak cerdas), dan sulit diajak berdiskusi/berdialog. Contoh mabok adalah mabok minuman keras dan mendem gadung (di Jawa). Analog definisi ini, maka mabok agama dapat didefinsikan sebagai orang (atau kumpulan orang) yang mengkonsumsi/memahami agama secara berlebihan, melupakan keterbatasan agama, melupakan penyalah gunaan agama yang lumrah terjadi (terutama politisasi agama), dan menganggap bahwa semua persoalan dunia dapat diatasi hanya dengan agama saja.


4. Contoh dan Gejala Mabok Agama
Semua negara rupa-rupanya harus mengalami mabok agama dulu. Negara modern seperti Eropa baru selesai mabok agama sekitar abad 19 (seratus tahun yl.). Ketika agama Kristen masih "tidur lelap", namun mendominasi Eropa, maka Eropa mengalami jaman kegelapan dan kemunduran keilmuan luar biasa, baru setelah terjadi revolusi dalam penalaran (demokrasi dan logika, renaisance), Eropa bagaikan lahir kembali. Sekarang, kaum cerdas-cendekia-ilmuwan Eropa sudah tidak tertarik lagi hanya pada agama saja, namun mereka lebih tertarik untuk mengetahui rahasia Tuhan secara lebih dalam-luas-tuntas melalui science, teknologi dan berbagai agama/kepercayaan (jadi tidak terbatas pada satu agama saja). Mereka sudah pada tingkatan kesadaran (kita belum) bahwa sungguh amat sangat bodoh dan berdosa bila membatasi Tuhan yang Maha Takterbatas hanya pada satu buku tipis, satu nabi, dan satu agama saja. Kesadaran di Eropa ini juga dialami oleh intelektual di negara modern yang lain (Jepang, Korea, Taiwan, Singapore, Australia, Canada, USA, Rusia, dst.). Saat ini, di negara modern, agama sudah tidak boleh lagi diajarkan di sekolah negeri (dari SD sampai universitas), mengingat agama itu bersifat sangat personal/privasi, sedangkan yang lebih penting untuk diajarkan adalah budi pekerti.
Contoh kasus mabok yang lain, yang serupa akibatnya, adalah kasus mabok UUD’45 disaat jaman Orde Baru. Saat itu UUD’45 disakralkan, padahal oleh alm. Bung Karno sudah diamanatkan bahwa kitab ini terlalu sederhana karena dibuat dimasa darurat sehingga perlu direvisi apabila situasi dan kondisi negara sudah memungkinkan. Namun oleh regim ORBA justru sebaliknya, melalui berbagai penataran P4 (yang mungkin lebih tepat disebut pembodohan sekaligus brain washing bangsa) ditandaskan bahwa UUD’45 itu walau tipis namun sakti, kenyal, elastis, bisa mengatur segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, bisa diulur dan diungkret sesuai pemesannya/penguasanya; jadi perlu dipertahankan, dihormati, dan barangsiapa berkehendak menentang atau mau merubah UUD’45 jutru akan digebug! Bagaimana mungkin Indonesia yang lebih dari 13 ribu pulau dan lebih 200 juta penduduk dapat di manage dengan baik dengan “kitab suci” negara yang disebut UUD’45, yang oleh pembuatnya (BK) sudah diamanatkan keterbatasannya (tipis sekali dan isinya bersifat darurat)? Akibat UUD’45 ini, jadilah negara RI menjadi carut marut seperti sekarang ini. Demikian pula dengan kitab suci, yang oleh Tuhan sendiri telah ditegaskan keterbatasannya, jadi ya jangan sekali-kali dipertuhankan (disamakan dengan Tuhan)!
Dijaman kegelapan Eropa, ketika agama mulai ditinggalkan oleh para cerdik-cendekia akibat kebekuan dan kekakuannya, beberapa oknum pemuka agama mencoba mengkelabui umatnya dengan menandaskan bahwa kitab suci itu serba bisa-serba pintar, misalnya saja kitab suci bisa menjelaskan fisika, biologi, ekonomi, perbintangan, nuklir, komputer, dst. Hal ini perlu direkayasa demi menyelamatkan agama dari bahaya ditinggalkan oleh para penganutnya. Para ilmuwan busuk lalu diminta mengarang buku-buku yang isinya, sebenarnya mengada-ada serta mereka-reka, tentang keterkaitan fisika, biologi, ekonomi, perbintangan, nuklir, komputer, dst., dengan kitab suci; jadi direkayasa bahwa seolah-olah kitab suci itu maha bisa, maha kuasa, dan maha luar biasa (tanpa pernah membahas keterbatasan kitab suci). Syukurlah masyarakat cerdik-cendekia Eropa saat itu tidak terpancing. Mereka tetap menyadari bahwa kitab suci ditulis untuk menjelaskan adanya kehidupan yang jauh lebih baik setelah mati (surga) beserta cara untuk dapat sampai kesana (surga), jadi kitab suci ditulis bukan untuk menjelaskan fisika, biologi, ekonomi, perbintangan, nuklir, komputer, dst. Mereka juga belajar dari kebijaksanaan ilmuwan top para pemenang hadiah Nobel, yang tidak pernah mengkaitkan kepakaran keilmuannya dengan kitab suci! Mereka tidak terpancing dengan iklan kecap nomor 1 dari oknum pemuka agama yang menyesatkan, membodohi serta membuat bodoh umat beragama! Saat ini, di toko-toko buku di Indonesia, banyak dijumpai buku-buku semacam diatas yang menggambarkan kitab suci itu serba bisa-serba pintar, misalnya saja kitab suci bisa menjelaskan fisika, biologi, ekonomi, perbintangan, nuklir, komputer, dst. Rupanya ada usaha agamisasi (Islamisasi/Kristenisasi) ilmu pengetahuan. Pemimpin agama berkonspirasi dengan ilmuwan untuk membodohi umatnya. Sungguh sangat menyesatkan nalar, apabila ada siswa yang belajar ilmu fisika atau ekonomi dari kitab suci Alqouran atau Injil. Semoga saja umat beragama dapat belajar dari sejarah pembodohan umat oleh pemimpin agama yang busuk di jaman kegelapan Eropa.
Gejala mabok agama di negara kita juga dapat dirasakan dari aktivitas keseharian. Undangan-undangan kegiatan di rumah dan di kantor kebanyakan bersifat keagamaan, misalnya dakwah agama atau pendalaman kitab suci. Jarang sekali undangan yang bersifat keilmuan yang non agama. Demikian pula, mass media seperti televisi, radio, majalah, spanduk, pamlet, selebaran, dan koran dipenuhi oleh berita/renungan keagamaan. Sinetron kita juga banyak yang bernuansa mistik campur agamis. Lagu-lagu di televisi dan radio juga banyak mengandung pesan-pesan agama. Yang sangat menyolok mata adalah cara mengkover hari raya Lebaran selama hampir 40 hari, dimulai dari awal puasa, mudik hari H Min, saat Lebaran, mudik hari H plus, dan usai lebaran untuk masuk kerja, sungguh luar biasa. Apakah pemberitaan semacam ini bermanfaat? Demikian pula saat mengcover ibadat haji, hampir 40 hari pula. Apakah tidak menghambur-hamburkan waktu, biaya, dan tenaga? Coba bayangkan bila cara mengcover berita pemberantasan KKN semacam hari Lebaran dan Haji (full selama 80 hari), dijamin Indonesia cepat bersih! Jika membandingkan dengan negara modern, hal sebaliknyalah yang terjadi, keilmuan, politik,dan bisnis sangat mendominasi, agama sangat minim karena agama dianggap urusan pribadi (privasi). Masyarakat Jepang dikenal sebagai kecanduan kerja, tiada hari tanpa kerja, istilah kerennya: work alcoholic; sedangkan bagi masyarakat Indonesia, tiada hari tanpa dibumbui agama, mungkin istilah kerennya: religion alcoholic. Di negara modern ada falsafah time is money, di kita agak lain: time is religion! Ada iklan Coca Cola begini: Kapan saja, dimana saja, minumlah Coca Cola; di masyarakat kita seolah-olah juga punya iklan yang mirip, yaitu: Kapan saja, dimana saja, tengguklah hanya agama! Dari pengamatan kegiatan keseharian ini, dapat disimpulkan bahwa bangsa Indonesia sedang mabok/mendem agama! Kecanduan agama menyebabkan mendem, mendem agama kalau diteruskan dapat menjadi keracunan agama! Ingat, obat itu juga dapat menjadi racun tubuh kalau dipakai secara overdosis/berlebihan! Namun perlu diketahui, bahwa semua negara yang telah berada ditingkatan modern dipastikan pernah mengalami jaman kerajaan, diktator, semi demokratis, demokratis dan pasti juga pernah mengalami mabok agama. Cuman sebaiknya kita dapat belajar dari sejarah, agar mabok agama tidak berkepanjangan dan tidak mengulangi kesalahan yang telah dibuat oleh mereka itu.

5. Penutup
Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi justru menjadi belenggu/pembatas bagi Tuhan dan umat beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana penguasa politik, militer, birokrat, ilmuwan, ekonom maupun pemuka agama bahu-membahu mendungukan manusia agar dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka. Pendunguan manusia ini antara lain dapat dicapai dengan mengkondisikan agar masyarakatnya mabok agama. Para oknum agamawan telah menjadikan Tuhan bersifat statis-kaku-beku; sebaliknya para ilmuwan selalu ingin membebaskan sifat statis-kaku-beku tadi menjadi dinamis-fleksibel-uptodate.

Dengan kondisi mabok agama, minimnya anggaran pendidikan, dan maraknya KKN, sudah dapat dipastikan bahwa bangsa Indonesia akan terus-menerus mengalami krisis kebudayaan dan kemunduran kualitas SDM. Krisis kebudayaan dan kemunduran kualitas SDM adalah sumber dari segala sumber berbagai krisis yang sedang dialami Indonesia. Dengan berbagai krisis ini, maka negara asing dapat “mendominasi dan mengerjain” Indonesia bekerjasama dengan para politisi busuk di pusat (Jakarta), yang sedang berkuasa (namun bodoh) dan sedang lupa diri, dalam bentuk simbiose mutualistis (kerjasama yang saling menguntungkan)!

Kita yakin bahwa dalang mabok agama ini ada pada tingkatan lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Mereka ini mempunyai jaringan yang rapi sekali bagaikan jaringan multi-level-marketing (MLM), mereka juga mempunyai dana yang besarnya trilyunan rupiah. Negara asing mempunyai kepentingan untuk menjadi penikmat utama kekayaan alam Indonesia serta ingin menjadikan Indonesia sebagai negara boneka. Bagi politisi busuk di Jakarta, kondisi mabok agama sangat menguntungkan mereka demi mengalihkan perhatian bangsa dari masalah utama (misal KKN) dan masalah penting lainnya (BBM), sekaligus menina bobokan/menghinoptis/menggendam bangsa ini agar hidupnya terkonsentrasi, terlena dan terbuai hanya oleh masalah agama, selain itu demi memberikan rasa nyaman, menerima, dan pasrah (takdir) atas terjadinya kemiskinan dan pemiskinan bangsa yang luar biasa kejamnya!

Last but not least, mendem agama ternyata justru mengakibatkan kemunduran moral, etika dan kebudayaan, aneh ya? Mungkin ini “tanggapan” Tuhan atas pelecehan terhadapNya oleh kaum mendem agama!

Sebagai penutup, kami juga mohon agar artikel2 ini disebar luaskan kepada para: intelektual, aktivis kampus, pemuka agama, dan cendekiawan keagamaan di segenap penjuru Nusantara dan ke seantero dunia baik secara: digital (diforwardkan/disimpan di archive suatu situs internet), suara (dibacakan di radio) maupun secara kertas (dicetak/dibukukan), dengan harapan untuk menjadi sumber pembahasan/diskusi yang sehat dan sumber riset mengarah ke doktoral (PhD) demi memicu pengertian yang lebih mendalam tentang kebudayaan, agama, politik, sex dan Tuhan. Uluran tangan untuk menterjemahkan artikel ini kedalam bhs. Inggris yang baik/standar agar dapat di publish secara internasional melalui internet sangat kami tunggu2. Dengan peningkatan kecerdasan melalui internet, diharapkan kualitas SDM Indonesia dapat meningkat tajam, sehingga diharapkan negara Indonesia (dan dunia) menjadi lebih aman, tenteram dan sejahtera. Sekian dan terima kasih.

Dari pengasuh web blog,
Paguyuban Penanggulangan Krisis Kebudayaan Nasional
di Yogyakarta
Email: CerdaskanNegara@yahoo.com